TEROPONGNTT, BAJAWA — Dengan penuh semangat dan suara lantang, Mama Emirensia Wawo berkata bahwa semua warga Desa Ulubelu, menerima kehadiran Proyek Geothermal di PLTP Mataloko, Kabupaten Ngada. Yang protes dan menolak kehadiran proyek geothermal bukan warga sekitar lokasi PLTP Mataloko, tapi justru warga di luar lokasi dan bahkan warga di kabupaten lain.
“Kami masyarakat Desa Ulubelu yang tinggal di sekitar PLTP Mataloko menerima kehadiran proyek geothermal. Kami bangga jika proyek geothermal yang berlokasi di desa kami, bermanfaat bagi desa tetangga, kecamatan tetangga, kabupaten tetangga dan seluruh Pulau Flores,” kata Mama Emirensia Wawo.
Pernyataan ini disampaikan Mama Emirensia Wawo, warga Desa Ulubelu, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada kepada para wartawan yang mengikuti kegiatan Safari Jurnalistik ke PLTP Mataloko pada Jumat 24 Oktober 2025. Kegiatan Safari Jurnalistik Media ke PLTP Mataloko memang digelar PLN (Persero) UIP Nusra dalam upaya memperkuat transparansi dan edukasi publik terkait pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Saat mengatakan hal ini, Mama Emirensia Wawo bersama Bapak Bernadus Bate, juga warga Desa Ulubelu. Bahkan Mama Emirensia Wawo mengatakan, dirinya adalah Ketua Lingkungan Ulubelu, wilayah Paroki Roh Kudus Mataloko, Keuskupan Agung Ende.

Mama Emirensia bahkan menyebut, proyek geothermal sudah ada di wilayah Mataloko, Kabupaten Ngada sejak lebih dari 20 tahun lalu, bukan baru hadir sekarang di Mataloko. Masyarakat sekitar lokasi juga menyambut baik kehadiran proyek geothermal di PLTP Mataloko, karena bermanfaat bagi masyarakat, hingga ke kabupaten tetangga dan seluruh Pulau Flores.
Selain itu, dengan hadirnya proyek geothermal, banyak manfaat dan bantuan yang diberikan kepada warga sekitar. Baik dalam bentuk pembangunan aspal atau hotmix jalan, bantuan dana pemberdayaan, dan bantuan lain sebagai bagian dari CSR PT. PLN (Persero).
“Alam sekitarnya juga tidak ada yang berubah. Tanaman masih tumbuh dan berbuah, ternak seperti sapi dan lainnya juga tetap hidup seperti biasa. Kalau bilang masyarakatnya miskin, dari dulu juga miskin. Bahkan saat ini, dengan adanya proyek geothermal, banyak warga di desa kami yang sudah membangun rumah tembok atau rumah permanen,” cerita Mama Emirensia.
Tentang kelompok masyarakat atau lembaga sosial dan LSM yang menyatakan protes dengan kehadran proyek geothermal, Mama Emirensia mengatakan, hal itu boleh-boleh saja. Yang pasti masyarakat Desa Ulubelu yang tinggal di sekitar lokasi proyek tidak menerima dan tidak menolak kehadiran proyek geothermal tersebut.
Bagi warga sekitar proyek geothermal, kata Mama Emirensia, pembangunan yang dilakukan pemerintah termasuk proyek geothermal, pasti memiliki maksud yang baik untuk kehidupan masyarakat, termasuk warga sekitar PLTP Mataloko, Pasti melalui analisis terlebih dahulu, sehingga tidak mungkin berniat menyengsarakan masyarakat.

Pernyataan Mama Emirensia Wawo ini dibenarkan Bapak Bernadus Bate, juga warga desa yang sama. Menurut Bapak Bernadus Bate, warga Desa Ulubelu menerima kehadiran proyek geothermal dan mendapatkan banyak manfaat dari kehadiran proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi tersebut, mulai dari pembangunan aspal jalan hingga bantuan pemasangan Listrik di rumah-rumah warga dan bantuan lainnya.
Pernyataan Mama Emirensia Wawo dan Bapak Bernadus Bate terbukti ketika para wartawan berkunjung ke lokasi manifes panas bumi Mataloko di wilayah Desa Wogo, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada. Di lokasi manifes panas bumi ini, ada warga yang terlihat sedang mengolah lahan dengan menanam tanaman holtikultura berupa sayur-sayuran seperti sawi dan kol.
Juga ada sumber mata air kecil di bagian atas lokasi tersebut, yang airnya bisa dialirkan dengan sistem irigasi seadanya, sehingga bisa mengalir dan mengairi lahan yang diolah untuk tanaman holtikultura tersebut. Tanaman dan pohon-pohon juga tumbuh di dekat lokasi manifes panas bumi. Selain itu, juga terlihat dua ekor sapi yang sedang asik merumput. Kedua ternak sapitampak sehat dan gemuk.
Sementara di lokasi manifes panas bumi, tampak ada tanda pembatas kawasan manifes sebagai petunjuk agar warga tidak mendekat. Karena di Lokasi manifes ini, ada 5 titik sembutan air dan asap dengan kapasitas yang sangat kecil. Hanya memang kalau berada di Lokasi manifes akan terasa bau belerang dari asap yang keluar.

Sekitar 100 meter lehih dari lokasi manifes panas bumi, juga ada sebuah rumah dan ada warga yang tinggal di sana, dan sedang melakukan aktifitas membersihkan lahan untuk persiapan menyambut musim tanam yang segera tiba. Pria penghuni rumah tampak sehat dan ramah saat disapa para wartawan.
Secara umum, fakta ini memberi kesan bahwa manifes panas bumi yang muncul di lokasi lahan pertanian warga di Desa Wogo, tidak menjadi masalah bagi kehidupan warga, kegiatan usaha pertanian dan peternakan milik warga setempat juga tetap berjalan seperti biasa.
“Keberadaan manifes panas bumi tidak berpengaruh pada usaha budidaya tanaman holtikultura yang saya kerjakan ini. Buktinya sayur-sayur yang saya tanam tetap tumbuh sehat dan segar-segar. Selama saya masih mau berusaha, menanam dan merawat tanaman, pasti akan berhasil,” kata Marselinus Gone, petani yang sedang membudidayakan tamaman sayur-sayuran di lokasi sekitar manifes panas bumi Desa Wogo, saat ditanya wartawan.
Menurut Marselinus Gone, aroma bau balerang dari lokasi manifes panas bumi sedikit sekali, sehingga tidak dirasakan pengaruhnya bagi para petani termasuk dirinya yang berusaha di sekitar lokasi manifes tersebut. Justru, dirinya bersama beberapa petani kini bergabung dalam kelompok tani binaan PLN dan mendapat bimbingan dan bantuan untuk kegiatan usaha pertanian yang lebih berkembang.
“Kami di Desa Wogo menerima kehadiran proyek geothermal yang berlokasi di wilayah desa kami. Kami hanya berharap kehadiran proyek geothermal membawa lebih banyak manfaat bagi masyarakat, terutama bagi masyarakat sekitar, sehingga kehidupan ekonomi masyaraat menjadi semakin baik,” kata Marselinus Gone.
Sementara dalam kunjungan untuk melihat progress wellpad A di wilayah Desa Wogo, tampak pekerjaan konstruksi infrastruktur wellpad A untuk proyek geothermal PLTP Mataloko sudah hampir rampung. Para tenaga kerja tampak berupaya menyelesaikan tembok penahan di sekitar lokasi wellpad A.
Juga terlihat dua kolam sebagai penampung air dan ada pula gedung yang telah dibangun, sebagai bagian dari kelengkapan infrastruktur proyek geothermal di lokasi tersebut. Semua berjalan dengan baik, sementara warga sekitar pun sibuk dengan kegiatan usaha pertanian mereka masing-masing.
Dukungan warga terhadap kehadiran proyek geothermal di PLTP Mataloko juga terungkap saat para wartawan yang mengikuti kegiatan Safari Jurnalistik bersama PLTP UIP Nusra mendatangi Kampung Ada Wogo di Desa Wogo Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada di hari yang sama. Pernyataan dukungan disampaikan dua tokoh adat Desa Wogo yakni Yonanes Naghi dan Marsel Selu, mewakili warga Kampung Adat Wogo.
Menurut Yonanes Naghi, masyarakat Desa Wogo menerima dan mendukung kehadiran proyek geothermal sebagai sumber energi di Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Mataloko. Bahkan, warga sekitar mendapatkan banyak manfaat sebagai dampak dari pembangunan proyek geothermal tersebut.
Yonanes Naghi, atau yang biasa disapa Hans Naghi, bahkan menepis isu kalau warga mengalami gagal panen akibat proyek geothermal, warga mengalami gatal-gatal akibat sumber air tercemar oleh proyek geothermal, ternak mati dan dampak negative lainnya. Itu semua adalah isu yang tidak benar dan lucu.
Hal yang sama disampaikan tokoh adat lainnta di Desa Wogo yakni Marsel Selu. Menurut Marsel Selu, justru ada banyak manfaat yang dirasakan warga saat ini berkat kehadiran proyek geothermal. Apalagi jika proyek geothermal bisa menjadi pembangkit Listrik yang memenuhi kebutuhan seluruh masyarakat Pulau Flores, maka hal itu lebih besar lagi manfaat yang akan dirasakan.
Pada kesempatan ini, dua tokoh adat Desa Wogo yakni Yonanes Naghi dan Marsel Selu, juga menyampaikan harapan, agar PLN memberi perhatian pula pada pengembangan obyek wisata budaya Kampung Adat Wogo, sehingga lebih berdampak kepada kehidupan ekonomi warga yang lebih baik. Dan harapan tersebut didengar langsung oleh Manager Perizinan & Komunikasi PT PLN (Persero) UIP Nusa Tenggara, Bobby Robson Sitorus, dan Agradi Aryatama, selaku Tim Komunikasi dan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT PLN (Persero) UIP Nusra.
Jika demikian faktanya, mengapa masih berkembang isu penolakan proyek geothermal di Pulau Flores, khususnya di PLTP Mataloko?. Mengapa isu yang berkembang terkait gangguan kesehatan yang dialami warga seperti gatal-gatal, dan banyak ternak yang mati akibat air tercemar limbah proyek geothermal, dan isu lainnya, justru dibantah oleh warga sekitar lokasi PLTP Mataloko?
Manager Perizinan & Komunikasi PT PLN (Persero) UIP Nusa Tenggara, Bobby Robson Sitorus, dalam pemaparannya kepada para wartawan saat kegiatan Safari Jurnalistik Media ke PLTP Mataloko, Jumat 24 Oktober 2025, menjelaskan bahwa, berbagai isu memang masih dihembuskan beberapa pihak untuk menolak kehadiran proyek geothermal. Isu tersebut didasarkan pada informasi dari tempat lain bahkan dari negara lain yang tidak sesuai dengan kondisi di Pulau Flores.
Juga diakui Bobby Robson Sitorus, masih ada satu dua warga di sekitar lokasi PLTP Ulumbu yang masih terpengaruh dengan isu yang berkembang sehingga ikut menolak kehadiran proyek geothermal di PLTP Mataloko. Sehingga pihak PT PLN (Persero) UIP Nusa Tenggara masih terus melakukan upaya sosialisasi dan edukasi agar semua warga memiliki pemahaman yang lebih baik tentang proyek geothermal.
“Berbagai kegiatan sosialisasi dan edukasi terus dilakukan PT PLN (Persero) UIP Nusa Tenggara agar masyarakat mendapat pemahaman yang benar tentang proyek geothermal dan kehadiran PLTP di wilayah Pulau Flores dan Lembata baik itu PLTP Ulumbu, PLTP Mataloko maupun PLTP UIP Nusra,” kata Bobby Robson Sitorus.
Sementara Agradi Aryatama, selaku Tim Komunikasi dan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT PLN (Persero) UIP Nusra, dalam pemaparannya menjelaskan, PLTP Mataloko (Eksisting) awalnya mensuplai kebutuhan sebesar 5 MW (saat ini tidak beroperasi).untuk kebutuhan energi listrik di Ngada sebesar 100% (5 MW dari total 4,76 MW; beban/kebutuhan listrik yang tercatat di Gardu Induk Bajawa -4,76 MW.
Sisa kebutuhan energi listrik Ngada, kata Agradi Aryatama, disuplai dari sistem kelistrikan Flores, yaitu terutama dari PLTMG Rangko (20 MW) di Labuan Bajo dan/atau PLTMG Maumere (40 MW). Untuk menjawab kebutuhan Listrik ini maka perlu penambahan suplai energi Listrik.
Lalu mengapa harus geothermal, kata Agradi Aryatama, karena geothermal merupakan Energi Hijau & Bersih, sekaligus handal karena ketersediaan energi tidak berubah. Selain geothermal, Energi Baru Terbarukan (EBT) lainnya bergantung pada musim dan cuaca.
PLTS (Surya) bergantung ketersediaan matahari; tidak bisa diandalkan ketika malam / awan mendung, PLTA (Air) bergantung ketersediaan air; tidak bisa diandalkan saat kemarau, dan PLTB (Bayu/Angin) bergantung ketersediaan angin,; tidak bisa diandalkan karena hembusan angin berubah-ubah setiap waktu
Selain itu, kata Agradi Aryatama, menurut Ir. Ali Ashat Dipl.Geotherm.En.Tech, Flores punya sesuatu yang sangat berharga yakni potensi panas bumi. Energi ini bukan hanya lebih murah dibanding diesel, tapi juga lebih bermanfaat untuk jangka panjang. Sehingga diharapkan wilayah Pulau Flores bisa menggunakan energi yang bersih, yang jelas sumbernya, dan sudah terbukti secara teknologi. Geothermal adalah jawaban bagi pembangkit Listrik yang andal dan ramah lingkungan
Apalagi, kata Agradi Aryatama, pemerintah Indonesia telah menetapkan Pulau Flores sebagai Geothermal Island melalui Keputusan Menteri ESDM No. 2268K/30/MEM/2017 tanggal 19 Juni 2017. Dan PLTP atau geotherma; berbeda dengan tambang. Geothermal bertujuan menghasilkan Listrik dari Panas Bumi, sementara pertambangan mengambil bahan galian seperti Batubara, logam, dan mineral).
Selain itu, cara kerja geothermal adalah mengalirkan uap panas bumi melalui sumur tertutup, sementara cara kerja pertambangan adalah menggali, mengebor, dan mengangkut material. Bentuk fisik geothermal adalah berupa sumur kecil, pipa dan instalasi pembangkit, sementara bentuk fisik pertambangan adalah lubang besar, tailing dan dampak lanskap. Sehingga antara geothermal dan pertambangan jelas berbeda.
Di PLTP Mataloko, jelas Agradi Aryatama, ada empat lokasi yang menjadi titik lokasi wellpad untuk proyek geothermal yang disebut sebagai Lokasi Wellpad yakni Lokasi Wellpad A, Lokasi Wellpad B, Lokasi Wellpad C dan Lokasi Wellpad D. Khusus untuk Lokasi Wellpad A berada di wilayah Desa Wogo.
Semoga kehadiran proyek geothermal di PLTP Mataloko dapat membawa manfaat bagi masyarakat Pulau Flores terutama warga di sekitar lokasi proyek geothermal tersebut. Terus lakukan sosialisasi, terus lakukan edukasi demi kehidupan masyarakat yang lebih baik.
(max)









Komentar