TEROPONGNTT, DENPASAR – Hari pertama kegiatan Media Gathering Semester I Tahun 2026 Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) di Pulau Bali pada Senin 27 April 2026, langsung diisi dengan kunjungan ke Pabrik Cau Chocolate yang berlokasi di Jalan Marga Apuan Dusun Cau di Desa Tua Petiga Br Sumingan, Kecamatan Margo, Kabupaten Tabanan. Perjalanan di lokasi ini membutuhkan waktu lebih dari 1,5 jam menggunakan bus dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Denpasar.
Saat tiba di depan pintu gerbang pabrik, para wartawan dan tim OJK NTT tidak langsung masuk ke komplek pabrik, tetapi diarahkan ke restaurant milik Pabrik Cau Chocolate di seberang jalan. Rasa capek tim OJK dan para wartawan pun hilang seketika, saat mendapat suguhan minuman coklat khas Provinsi Bali. Apalagi restaurant berada tepat di tengah perkebunan kakao yang rimbun, dengan pemandangan yang indah dan menyejukan mata.
Ternyata di sinilah makna pertama dari pesan kegiatan media gathering OJK NTT yang penting untuk diinformasikan dan diberitakan kepada publik Nusa Tenggara Timur. Merasakan nikmatnya dan menelusuri jalan cerita hingga buah kakao menjadi minuman coklat atau produk coklat lainnya.
Persis seperti tema kegiatan, “Beyond Headlines, See More, Know More, Share Batter!” (Lebih dari Sekadar Berita Utama, Lihat Lebih Banyak, Ketahui Lebih Banyak, lalu Bagikan dengan Lebih Baik!”, maka cerita pertama pun dimulai. Peserta media gathering diarahkan masuk ke Perkebunan coklat, melihat langsung buah-buah coklat yang matang dan memetiknya.
Beberapa wartawan juga memakan buah coklat untuk merasakan langsung manisnya. Sementara biji kakaonya dikumpulkan untuk difermentasi dan dijadikan coklat yang enak. Kawasan perkebunan terlihat bersih dan tidak ada hama ataupun serangga di buahnya. Umumnya tanaman kakao di Perkebunan ini Adalah tanaman kakao dengan jenis buah berwarna merah kecoklatan.
Setelah melihat dan mencoba memetik buahnya, peserta media gathering lalu diarahkan ke tempat fermentasi biji kakao atau biji coklat,dan selanjutnya melihat tempat pengeringan biji kakao. Jika diperhatikan, proses fermentasi dan mengeringan tampak sederhana dan bisa dilakukan para petani kakao di Nusa Tenggara Timur.
Dan, proses terakhir setelah pengeringan adalah penggilingan dan pengolahan biji kakao di Pabrik Cau Chocolate yang ada di seberang jalan. Di pabrik ini, semua proses menggunakan mesin, dan para wartawan bersama Tim OJK Provinsi NTT hanya diperbolehkan melihat dari luar melalui kaca jendela. Alasannya, karena proses pengolahan coklat di dalam pabrik harus bersifat steril.
Sementara dalam sesi diskusi, Ir Made Budiana selaku Asisten General Manager di PT Cau Coklat Internasional, menjelaskan bahwa sejauh ini bahan baku biji kakao yang dipasok ke Pabrik Cau Chocolate hanya berasal dari kawasan Pulau Bali. Walaupun pihak Perusahaan PT Cau Coklat Internasional sudah pernah melakukan upaya survey guna mencari biji coklat terbaik hingga ke wilayah Provinsi NTB dan NTT.
Menurut Ir Made Budiana, perkebunan kakao milik masyarakat di wilayah Provinsi NTT terutama di Pulau Flores, memiliki kualitas yang sangat bagus. Bahkan, perusahaan PT Cau Coklat Internasional kini melirik hasil produksi kakao dari Provinsi NTT untuk memperkaya cita rasa coklat yang dihasilkan Pabrik Cau Chocolate di Tabanan Bali.
Wartawan juga sempat bertanya, jika masyarakat NTT ingin mengolah sendiri biji kakao menjadi minuman coklat yang bisa dihidangkan di rumah atau sekedar membuka kedai coklat kecil-kecilan dengan bahan dasar hasil olahan coklat local, menurut Ir Made Budiana, ada cara tradisional yang sederhana, yang bisa dilakukan, yakni dengan cara digoreng lalu dihancurkan dengan cara tumbuk. Selanjutnya diseduh dengan air panas menjadi minuman coklat yang bisa dinikmati.
Namu nada dua hal penting yang menjadi catatan dalam diskusi bersama Ir Made Budiana selaku Asisten General Manager di PT Cau Coklat Internasional ini. Yang pertama adalah, sebelum dikeringkan biji kakao harus difermentasi terlebih dahulu selama kira-kira 5 hari. Hal penting kedua adalah, upaya pemisahan ampas coklat dan minyak kakao di dalam pabrik, sebelum dibuat menjadi produk kakao yang bisa dijual dan dimakan.
Karena kebanyakan biji kakao yang dijual di pasar-pasar tradisional di wilayah Provinsi NTT Adalah biji kakao yang dikeringkan tanpa melalui proses fermentasi terlebh dahulu. Makanya, wajar saja kalau langsung digoreng atau dipanaskan dan dialuskan lalu diseduh menjadi minuman coklat bisa membuar rasanya lebih pahit dan bahkan orang yang meminumnya merasa pusing.
Pada kesempatan ini, Kepala OJK Provinsi NTT, Jimmy Simarmata mengatakan, OJK NTT berharap, media bisa memberitakan informasi terkait usaha perkebunan Kakao dan pengolahannya menjadi minuman dan cemilan coklat yang lezat kepada publik, sehingga menjadi inspirasi bagi masyarakat NTT terutama kalangan UMKM dan calon pengusaha lainnya.
“Semoga hasil tanaman kakao di wilayah NTT nantinya bisa juga diserap PT Cau Coklat Internasional Tabanan untuk dijadikan minuman dan cemilan coklat yang enak. Atau paling tidak menjadi inspirasi untuk kegaiatan UMKM dan lainnya di Provinsi NTT,” kata Jimmy Simarmata.
Kegiatan Media Gathering Semester I Tahun 2026 Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) di Pulau Bali ini diikuti 20 wartawan dari berbagai media di wilayah Provinsi NTT. Kegiatan media gathering dipimpin langsung Kepala OJK Provinsi NTT, Jimmy Simarmata.
(*/bersambung..)










Komentar