TEROPONGNTT, KUPANG – Jabatan Direktur Kredit Bank Perekonomian Rakyat Tanaoba Lais Manekat (Bank TLM) yang sebelumnya dijabat Yeremia M Nappoe, diserahterimakan kepada pejabat baru Direktur Kredit Bank TLM, Johan P Makatita. Selanjutnya, Yeremia M Nappoe menduduki jabatan baru sebagai Komisaris Bank TLM.
Sementara jabatan Kepala Bagian Marketing Bank TLM yang sebelumnya dijabat Johan P Makatita, diserahterimakan kepada Mathelda Debby Rondo, yang dipromosikan dari jabatan sebelumnya sebagai Kepala Seksi Marketing. Promosi jabatan dilingkup manajemen Bank TLM dilakukan berdasarkan proses seleksi yang ketat.
Pada kesempatan yang sama, sebanyak 20 karyawan baru Bank TLM mengucapkan janji dan menandatangani Pakta Integritas untuk setia dan siap bekerja secara professional melayani masyarakat dan nasabah. Janji yang diucapkan dalam Pakta Integritas juga didukung dengan pernyataan para orangtua/wali yang mendampingi karyawan baru.
Acara Serah Terima Jabatan dan Pakta Integritas Karyawan PT BPR Tanaoba Lais Manekat (Bank TLM) dilaksanakan di Aula Lantai II Kantor Pusat Bank TLM di Jalan A Yani Oeba Kupang pada Sabtu 18 April 2026. Acara Serah Terima Jabatan dan Pakta Integritas Karyawan ini diawali dengan Ibadat Sykur yang dipimpin Pdt Sepy M A Hawu, S.Th, dan dihadiri Dirut Bank TLM Robert P Fanggidae bersama jajaran direksi dan manajemen serta perwakilan Pemegang Saham.
Dalam kotbahnya, Pdt. Sepy M A Hawu, S.Th menekankan pentingnya jajaran direksi dan komisaris serta manajemen dan karyawan Bank TLM, untuk menjadi garam dan pelita bagi orang lain, bagi masyarakat dan nasabah. Garam dan pelita menjadi perjanjian ketaatan, kesetiaan dan kejujuran dalam bekerja dan melayani supaya kehadiran Bank TLM benar-benar berguna bagi semua orang.
“Garam itu warnanya putih dan melambangkan kejujuran, juga mengawetkan dan mencegah kebusukan, serta memberi cita rasa yang baik dalam pelayanan. Kalau tidak menjadi garam dan pelita lagi, konsekuensinya akan diinjak dan ditinggal orang. Karena itu jadilah pemimpin dan karyawan Bank TLM yang memberi pelayanan terbaik bagi masyarakat dan nasabah,” kata Pdt. Sepy M A Hawu.
Sementara dalam sambutannya, Dirut bank TLM, Robert P Fanggidae mengatakan, secara operasional Bank Perekonomian Rakyat (Bank TLM) sudah berjalan selama 18 tahun 3 bulan. Puji Tuhan, dalam kondisi lingkungan regional, nasional maupun kondisi ekonomi politik internasional seperti saat ini, Bank TLM masih berada dalam penyertaan Tuhan dan masih dalam keadaan sehat meskipun tantangannya tahun ini, terasa lebih berat dibanding kondisi saat Covid-19.
“Kita memang secara asset terus bertumbuh, asset Bank TLM pada posisi 31 Desember 2025 sebesar Rp302 Miliar, bertumbuh luar biasa, meningkat Rp16 M menjadi Rp318 Miliar pada Maret 2026, dengan laba hampir sebesar Rp1,2 M, kredit bermasalah 2,7 persen dan nasabah juga bertumbuh banyak, sampai dengan Maret 2026 tercatat sebanyak 20.382 nasabah, jumlah rekening juga sudah sebanyak 25 ribu lebih. Tapi mengelola bank itu harus ada keseimbangan antara uang masuk dan uang keluar,” kata Robert P Fanggidae.
Dari tahun 1958 sampai saat ini, kata Robert P Fanggidae, belanja pemerintah masih menjadi faktor utama pendorong pertumbuhan ekonomi di NTT. Karena itu, Bank TLM telah melakukan evaluasi dan langkah-langkah stategis dalam menyikapi kondisi perekonomian saat ini, seperti antisipasi pengaruh perubahan iklim maupun kemungkinan kenaikan harga BBM. Langkah-langkah stategis yang dilakukan baik efisiensi maupun peningkatan produkstifitas, dan saat mulai menampakan hasil.
“Kita tahu bahwa pemerintah melakukan realokasi (bukan efisiensi) yaitu menarik anggaran dari daerah kemudian dikembalikan dalam bentuk proyek stategis nasional, yakni MBG, Pembangunan 3 juta rumah, dan Koperasi Desa Merah Putih. Kita harus menyesuaikan dengan kondisi itu, dan kita harus memahami ekosistem,” kata Robert P Fanggidae.
Menurut Robert P Fanggidae, seharusnya Gereja juga menangkap peluang ini. Karena terlepas dari kelemahan pelaksanaan MBG di lapangan, hal ini baru terjadi dalam kepemimpinan Indonesia sejak jaman Presiden Soekarno, bahwa pemerintah mau memastikan siapa pembelinya. Kalau dulu dalam kegiatan pembangunan nasional, pertanian dan sebagainya, pembelinya tidak pasti. Petani berusaha saja dan berharap nanti ada pembelinya. Kalau sekarang pembelinya pasti, dan ini bagian tersulit dalam berbisnis.
Karena itu, kata Robert P Fanggidae, Gereja harus mengambil bagian. Ini peluang peluang yang harus ditangkap. Gereja punya 50 klasis, tanahnya luas, harusnya bisa bekerja sama dengan pemerintah. Karena orang miskin di NTT masing 17 persen lebih, artinya 1 juta lebih jumlah orang miskin di NTT saat ini.
“Bagaimana angka kemiskinan bisa turun, tentu karena dana pemerintah pusat sampai ke petani dan juga nelayan. Angka kemiskinan itu turun karena disumbangkan oleh tiga sektor, dan tiga sektor itu paling banyak warga GMIT. Sektor pertanian memang masih penyumbang terbesar yakni 29 persen PDRB, tapi 29 persen itu disumbangkan oleh orang yang banyak juga jumlahnya. Sehingga kalau dibagi pendapatan perkapita, warga miskinnya makin banyak. Secara angka memang turun, tetapi 17 persen dari ari jumlah penduduk 2 juta dulu, dan 17 persen dari jumlah penduduk 5,6 juta sekarang, tentu berbeda. Dan ini juga peluang dari sisi kredit,” katanya.
Sementar dari sisi operasional, kata Robert P Fanggidae, saat ini Bank TLM memanfaatkan UU Nomor 4 Tahun 2023 Tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Jasa Keuangan dengan berproses untuk digitalisasi. Kalau tidak maka Bank TLM akan terkena yang namanya resiko strategis.
“Resiko strategis itu ada tiga. Pertama, resiko kita tidak mencapai laba yang kita targetkan; Kedua, lingkungan berubah karena kemajuan teknologi, perilaku masyarakat berubah, hampir tidak ada orang baca koran, hampir tidak ada orang nonton TV, semua bertransaksi secara digital. Karena itu, Bank TLM sedang berproses menuju digitalisasi, baik pekerjaan maupun transaksi. Untuk transaksi kita sudah tandatangan kerjasama untuk transaksi digital. Target kita, Agustus 2026 kita sudah punya M-Banking sendiri,” kata Robert P Fanggidea.
Tapi tentang hal ini, kata Robert P Fanggidae, masih berproses dan prgramnya sedang dibuat. Setelah itu, nanti dilanjutkan dengan audit teknologi dan lainnya hingga mengurus ijin ke OJK dan BI dan proses lainnya. “Tapi kita sudah ada di jalan yang benar. Dan di NTT, Bank TLM jadi yang pertama untuk masuk ke M-Banking. Target kita, kalau bukan Agustus, maka selambat-lambatnya Desember 2026 kita sudah punya layanan M-Banking,” kata Robert P Fanggidae.
Sementara kepada 20 karyawan baru yang mengucapkan janji dan menandatangani Pakta Integritas, Robert P Fanggidae mengatakan, selama 18 tahun Bank TLM sudah menjaga identitasnya. Karena itu, pegawai Bank TLM juga harus punya karakter yang bagus, harus punya konsistensi. Harus sesuai antara apa yang diucapkan dengan apa yang dilakukan. Jangan mudah terpengaruh lingkungan yang tidak baik dan berusaha bekerja professional, serta memberi pelayanan terbaik kepada nasabah dan masyarakat.
Perwakilan Pemegang Saham Bank TLM, Rozali juga menyampaikan banyak pesan kepada para pegawai dan manajemen Bank TLM dalam sambutannya. Terutama ia menegaskan kembali tentang tujuan berdirinya Bank TLM yakni melayani masyarakat dan jemaat. Bukan mencari keuantungan secara bisnis.
(*)









Komentar