TEROPONGNTT, KUPANG – Sejumlah penampilan tarian daerah dan paduan suara lagu-lagu daerah mewarnai pembukaan Festival Budaya Kelurahan Fatululi Tahun 2026 yang dipusatkan di pelataran Pasar Oebobo Kota Kupang. Pegelaran Festival Budaya ini dibuka Kepala Dinas (Kadis) Pariwisata Kota Kupang, Josefina M. D. Getha, mewakili Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, pada Selasa 11 Agustus 2026.
Festival Budaya Kelurahan Fatululi yang yang digelar selama tiga hari hingga Kamis 13 Agustus 2026 ini mengusung tema “Keberagaman Adalah Kekuatan untuk Bersatu”. Pegelaran Festival Budaya ini dalam rangka memeriahkan HUT Ke-81 Kemerdekaan RI 17 Agustus 2026, sekaligus melestarikan dan mempromosikan potensi budaya yang dimiliki masyarakat Kota Kupangf. Kegiatan Festival Budaya dihadiri pula oleh sejumlah pejabat dan para tokoh masyarakat termasuk Camat Oebobo, Zet Batmalo, SH, MH.
Sejumlah tarian daerah dan paduan suara lagu-lagu daerah yang ditampilkan diantaranya, Tarian Gemu Fa Mi Re dari etnis Maumere yang ditampilkan anak-anak TK Kristen Karmel, Tarian Okomama dari etnis Timor Tengah Selatan (TTS) yang ditampilkan para siswa SDN Oebobo 2, Tarian “Tea Eku” dari Kabupaten Nagekeo yang dibawakan siswa-siswi Buoyant Montessori School, serta Line Dance Nusantara yang dibawakan guru-guru SD Inpres Bertingkat Oebobo.
Selain itu, juga ditampilkan Tarian Okomama dari etnis Timor yang ditampilkan siswa-siswi SD GMIT Oebobo, dan Tarian Hegong dari Kabupaten Sikka yang dibawakan siswa-siswi SD Inpres Oebobo 1, serta persembahan lagu daerah oleh vocal grup TK Karmel.
Ada juga persembahan Tarian Ofalangga dari etnis Rote Ndao yang dibawakan para mahasiswa KKN IAKN Kupang, Tarian Hegong dari etnis Maumere yang ditampilkan siswa-siswi SD Inpres Bertingkat Oebobo, Tarian Kreasi oleh mahasiswa KKN UMK, serta berbagai penampilan lainnya termasuk Line Dance dari ibu-ibu wilayah RT 02 dan RT 03.
Yang menariknya, meski semua tarian dan paduan suara lagu daerah memberikan penampilan terbaik mereka, namun penampilan Tarian Gemu Fa Mi Re oleh anak-anak TK Kristen Karmel terasa lebih meriah dan heboh. Buktinya, sejak pertama tampil anak-anak taman kanak-kanak itu langsung disambut tepuk tangan meriah dari semua yang hadir.
Bahkan, semua yang hadir sampai berdiri sambil bertepuk tangan. Apalagi saat ayat lagu Gemu Fa Mi Re sampai pada bagian refrain, “Putar ke kiri e.. nona manis putarlah ke kiri, ke kiri, ke kiri dan ke kiri ke kiri ke kiri manise, sekarang kanan e, nona manis putarlah ke kiri, ke kiri, ke kiri dan ke kiri, ke kiri, ke kiri ke kiri manise..” dan anak-anak TK Kristen Karmel keimutan mereka saat bergoyang. Sungguh membuat arena kegiatan menjadi riuh dengan tepuk tangan meriah.
Penampilan Tarian Gemu Fa Mi Re oleh anak-anak TK Kristen Karmel memang terasa lebih heboh meski penampilan peserta yang lain juga heboh dan menarik. Semua peserta yang menampilkan tarian dan Paduan suara juga tampil dengan pakaian adat dari etnis yang sesuai dengan jenis lagu daerah yang dipilih.
Dalam sambutannya yang dibacakan Kadis Pariwisata Kota Kupang, Josefina M. D. Getha, Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo menyampaikan ucapan selamat kepada masyarakat dan pemerintah Kelurahan Fatubesi atas terselenggaranya Festival Budaya di kelurahan tersebut. Festival Budaya bukan sekedar hiburan semata tetapi tetapi ruang untuk mengekspresikan potensi budaya yang dimiliki.
“Festival Budaya bukan hanya sebatas pada pentas seni budaya, tarian, lagu, kuliner dan busana, tetapi bagaimana kita menghargai diri kita serta memelihara dan memanfaatkan kekayaan budaya yang dimiliki untuk kehidupan yang lebih baik,” kata Wali Kota Kupang.
Pegelaran Festival Budaya di tingkat kelurahan, menurut Wali Kota, merupakan bagian dari komitmen pemerintah Kota Kupang untuk melestarikan dan mempromosikan potensi budaya, serta menjadi momentum untuk mempererat semangat persaudaraan dan rasa kebersamaan dalam keberagaman. Karena Kota Kupang adalah miniatur Nusa Tenggara Timur (NTT) serta menjadi miniatur Bangsa Indonesia.
Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo juga mengajak seluruh masyarakat Kota Kupang, terutama masyarakat Kelurahan Fatululi untuk terus menjaga dan merawat budaya dan semangat kebersamaan, serta melestarikan budaya yang dimiliki. Karana kekayaan budaya merupakan warisan leluhur yang harus terus dijaga dan dipelihara untuk anak cucu.
Sementara dalam laporannya, Ketua Panitia Festival Budaya Kelurahan Fatululi, Drs. Bernard Haning, mengatakan Festival Budaya menjadi momentum untuk memperkuat persatuan masyarakat di tengah keberagaman suku, agama, budaya dan latar belakang.
Drs. Bernard Haning mengatakan, pegelaran Festival Budaya atau Event Budaya Kelurahan Fatululi bertujuan memeriahkan dan memperingati HUT ke-81 Republik Indonesia, serta membangun semangat persatuan dan kesatuan di kalangan masyarakat Kelurahan Fatululi. Selain itu, bertujuan menumbuhkan rasa cinta dan kebanggaan terhadap budaya lokal Nusa Tenggara Timur yang dinilai mulai tergerus oleh pengaruh perkembangan jaman
Drs. Bernard Haning menjelaskan, Festival Budaya Kelurahan Fatululi berlangsung selama tiga hari dan menghadirkan berbagai pertunjukan seni dan budaya yang melibatkan anak-anak sekolah, guru, mahasiswa, warga dari sejumlah RW dan RT, serta komunitas seni lainnya. Penampilan tarian, Paduan suara serta artaksi budaya lainnya menjadi gambaran bahwa kekayaan budaya NTT dapat terus hidup apabila diberikan ruang untuk ditampilkan dan dipromosikan.
Selain itu, pegelaran Event Budaya atau Festival Budaya Kelurahan Fatululi juga melibatkan pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) sehingga memberi dampak ekonomi serta menjadi ruang bagi masyarakat untuk mempromosikan sekaligus memasarkan produk makanan lokal dan tenun ikat selama kegiatan berlangsung.
(*)









Komentar