Kesehatan
Beranda » Berita » UCB Kampus Berdampak Yang Progresif; Siap Hadirkan Fakultas Kedokteran

UCB Kampus Berdampak Yang Progresif; Siap Hadirkan Fakultas Kedokteran

FOTO : Pembukaan Fakultas Kedokteran UCB

TEROPONGNTT, KUPANG — Universitas Citra Bangsa (UCB) tidak hanya berkomitmen mencetak lulusan unggul dengan orientasi internasional, tetapi juga serius memikirkan keterjangkauan pendidikan untuk calon mahasiswa dari latar belakang ekonomi terbatas.

Hal ini disampaikan Rektor UCB Prof. Dr. Frans Salesman, SE., M.Kes dalam wawancara di kampus tersebut Selasa (29/07/2025).

“Bagi mahasiswa dari keluarga miskin, biasanya kita alokasikan ke KIP Kuliah,” tegasnya. Selain itu, ada juga dukungan dari Abraham Foundation yang dimiliki oleh Abraham Paul Liyanto sebagai sumber beasiswa kedua untuk anak-anak miskin yang pintar dan ingin kuliah tetapi terkendala dari aspek ekonomi.

UCB juga menjalin kerjasama dengan 22 kabupaten/kota di Nusa Tenggara Timur yang masing-masing menyediakan beasiswa melalui anggaran daerah (APBD) untuk mahasiswa yang kuliah di UCB.

Jadi, secara keseluruhan kampus menyediakan tiga jenis program beasiswa yang sangat membantu mahasiswa kurang mampu,” kata Rektor UCB Prof. Dr. Frans Salesman.

Gathering Universitas Citra Bangsa Dibuka dengan Ibadah; Membangun Kesejahteraan Bersama (1)

Menurut Prof. Frans, program beasiswa dari pemerintah daerah memberikan kontribusi signifikan. Rata-rata ada sekitar 20 sampai 30 mahasiswa per kabupaten/kota yang mendapatkan beasiswa dari APBD mereka.

“Karena hubungan yang baik dengan pemerintah daerah dan kepercayaan mereka terhadap kualitas pendidikan di UCB, setiap angkatan bisa ada sekitar 500-an mahasiswa yang terbantu melalui program beasiswa ini,” katanya.

UCB menunjukkan hasil nyata atas komitmennya dalam mencetak lulusan yang mampu bersaing di pasar kerja, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Para alumni UCB telah tersebar di berbagai negara, meski sebagian besar masih berkiprah di luar negeri sebagaimana yang telah disampaikan sebelumnya.

“Di dalam negeri, khususnya di Nusa Tenggara Timur dan di Timor Leste, lulusan kami cepat terserap dalam dunia kerja. Berdasarkan tracer study yang kami lakukan, rata-rata mereka sudah mendapatkan pekerjaan dalam waktu kurang dari enam bulan setelah lulus,” ujarnya.

BEM FIKES UCB Kupang Gelar Seminar Personal Branding Tenaga Kesehatan di Era Digital

Program Kampus Berdampak yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, UCB mengaku telah lama menjalankan konsep serupa meski dengan nama dan desain yang kini tengah diseragamkan.

“Sebenarnya kami sudah lama menjalankan program kampus berdampak ini, hanya istilah dan desainnya baru disesuaikan,” katanya.

Program ini tidak hanya berbasis pengabdian masyarakat, tetapi juga mengintegrasikan kebutuhan lokal ke dalam kurikulum akademiknya.

Di Fakultas Kesehatan, visinya berorientasi pada komunitas. Misalnya prodi keperawatan, kebidanan, atau farmasi komunitas, fokus mempelajari kondisi kesehatan masyarakat yang ada di Nusa Tenggara Timur dan Timor Leste.

Ia menambahkan bahwa program ini sangat relevan saat ini melihat tingginya angka prevalensi stunting dan kemiskinan ekstrem di daerah tersebut.

PAMI NTT; Harus Siap Membuat Rumah Sakit “Tutup”

UCB sudah menjalin kerja sama dengan pemerintah provinsi melalui MoU, dimana mahasiswa dari program keperawatan, kebidanan, dan farmasi diterjunkan langsung ke desa-desa dengan prevalensi stunting tinggi di beberapa kabupaten seperti Timur Tengah Selatan, Sumba Barat Daya, dan Manggarai Timur.

“Kami mengajari ibu-ibu di rumah tangga cara mengolah makanan bergizi dan menjaga kebersihan rumah serta lingkungan sekitar. Intinya, karena roh kami adalah komunitas,” jelasnya.

Adanya strategi tersebut, maka UCB tidak hanya menghasilkan lulusan yang siap kerja, tetapi juga secara langsung berkontribusi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat di sekitarnya.

Salah satu cita-cita besar yang kini dalam tahap finalisasi adalah pembukaan Fakultas Kedokteran. Tahun ini sedang dalam proses finalisasi usulan pembukaan Fakultas Kedokteran, bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.

Pembukaan fakultas ini bertujuan melengkapi Fakultas Kesehatan yang sudah ada dengan memberikan layanan klinis langsung, serta menangani masalah kesehatan individu di Nusa Tenggara Timur yang masih menghadapi tingginya angka kematian ibu dan anak, tingginya penyakit infeksi, serta meningkatnya kasus penyakit degeneratif.

Prof. Frans juga mengungkapkan bahwa mulai sekarang mahasiswa UCB tidak hanya berasal dari NTT dan Timor Leste, tetapi sudah menarik perhatian calon mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia.

“Ternyata kami menerima mahasiswa dari Maluku, bahkan ada dua orang dari Merauke, serta dari Puncak Jaya,” jelasnya.

Beberapa daerah seperti Maluku dan Papua memberikan beasiswa kepada mahasiswanya untuk kuliah di UCB. Meskipun menempuh perjalanan ke NTT dari daerah- daerah tersebut memakan waktu lama, sebagian besar menggunakan pesawat.

UCB tengah menjalin kerja sama strategis dengan Kementerian Tenaga Kerja dan P2MI dalam mengelola pengiriman tenaga kerja ke luar negeri secara resmi dan teratur.

“Kami adalah salah satu dari dua perguruan tinggi mitra Kementerian P2MI, bersama Binawan,” jelasnya.

Kerja sama ini juga menegaskan pengawasan pemerintah terhadap kinerja UCB dalam mengirimkan tenaga ahli yang kompeten ke pasar internasional.

Adanya visi besar ini, UCB tidak hanya berupaya menjadi pusat pendidikan tinggi unggulan di Nusa Tenggara Timur, tetapi juga menjawab tantangan kesehatan dan sumber daya manusia tingkat regional dan nasional, bahkan internasional.

(*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement