Branding Uncategorized
Beranda » Berita » Perkuat Kolaborasi dengan Kampus CUNY di Amerika Serikat, Rektor UCB Dorong Mahasiswa FKIP Bermimpi Global

Perkuat Kolaborasi dengan Kampus CUNY di Amerika Serikat, Rektor UCB Dorong Mahasiswa FKIP Bermimpi Global

TEROPONGNTT, KUPANG — Rektor Universitas Citra Bangsa (UCB), Prof. Dr. Frans Salesman, S.E., M.Kes mendorong mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) untuk bermimpi global. Hal ini penting untuk membawa kampus UCB ke kancah internasional melalui kolaborasi dengan kampus City University of New York (CUNY), Amerika Serikat.

“Saya minta kita sekalian, terutama mahasiswa FKIP untuk bermimpi global. Kita bisa wujudkan kampus kita, UCB, menjadi kampus yang berkelas dunia. Dengan tagline KASIH (kreatif, akhlak, sinergi, integritas, dan harmoni), kita bisa raih impian bersama. Kita sudah jalin kerja sama dengan kampus CUNY melalui Prof. Marshella Lie, jadi kita bisa berkolaborasi dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, “kata Prof. Frans ketika membuka kegiatan seminar internasional yang diselenggarakan FKIP UCB bertajuk

“Dare to Dream: Studying Abroad & How to Get There”, di Aula Lantai 5, Universitas Citra Bangsa, Selasa (5/8/2025)

Menurut Prof. Frans, meningkatkan kualitas pendidikan di UCB sangatlah membutuhkan peran aktif dari semua elemen terkait, termasuk juga pemerkuatan kolaborasi, baik di dalam maupun di luar negeri. UCB tidak bisa berjalan sendiri, tapi juga perlu ditopang pihak lain, termasuk kampus CUNY, Amerika Serikat.

“Kita bersyukur, mendapat kesempatan dikunjungi Prof. Marshella dari kampus CUNY dan bersedia berbagi ilmu pengetahuan tentang bagaimana belajar di luar negeri, khususnya di Amerika Serikat. Ini peluang berharga yang dapat kita manfaatkan untuk menaikkan kualitas sumber daya manusia (SDM) kita melalui pendidikan yang yang berkualitas,” tandasnya.

Petani TTS Sampaikan Keluhkan Kelangkaan NPK Phonska kepada Anggota DPR RI Usman Husin, Terjadi Karena Masalah Bongkar Muat di Pelabuhan

Disentil Prof. Frans, indeks pembangunan manusia (IPM) di Indonesia pada umumnya masih berada di angka 75,02, sedangkan di NTT berada di angka 69,14 di tahun 2024. Dengan kondisi demikian, Indonesia dan NTT masih tergolong tertinggal, sehingga untuk mengejar ketertinggalan tersebut, dibutuhkan generasi muda yang berani bermimpi besar dan tampil sebagai pemimpin perubahan.

“Saya kira, kita sekalian punya tanggung jawab yang sama untuk mengatasi masalah ini (ketertinggalan IPM, red-) melalui pendidikan yang berkualitas. Karenanya, FKIP sebagai garda terdepan bangsa dan negara harus mencetak pendidik berkualitas yang mampu membentuk karakter dan kompetensi anak bangsa sejak dini. Dan, untuk mencapai ini, kita segera wujudkan program-program kerja sama dengan kampus CUNY dalam waktu dekat ini, “ ucapnya.

Ketua Yayasan Citra Bina Insan Mandiri (CBIM), Ir. Benny Ndoenboey, M.Si, turut memberikan pandangan tentang pentingnya kesadaran akan peradaban global, yang menuntut perubahan seiring perkembangan zaman.

“Mahasiswa FKIP harus disiapkan tidak hanya untuk mengajar, tapi juga untuk memahami dunia dan menjadi bagian dari perubahan besar dalam pendidikan global. Mahasiswa FKIP punya kesempatan untuk meraih impian bersama Prof. Marshella di Amerika Serikat, seperti pertukaran mahasiswa atau juga bisa lanjutkan studi,” tuturnya.

Melalui kegiatan seminar internasional yang digelar FKIP UCB, Ndoenboey berharap seminar tersebut dapat menumbuhkan semangat internasionalisasi di kalangan mahasiswa, khususnya di FKIP, dan membuka jalan bagi kolaborasi akademik lintas negara.

OJK dan Pemprov NTT Siapkan Strategi Perkuqt Ekonomi Daerah, Sektor Pertanian Menjadi Perhatian Utama

Sementara itu, pada sesi pemaparan materi seminar, Prof. Dr. Marshella Lie, Ed.D, M.A.Ed dari City University of New York, USA, berbagi tentang strategi dan pengalaman dalam meraih beasiswa serta meniti studi lanjut ke luar negeri, terkhususnya di Amerika Serikat.

“Saya yakin, adik-adik (mahasiswa, red-) bisa berkuliah di luar negeri, seperti di Amerika Serikat. Intinya, harus punya daya juang, kecakapan bahasa, dan kemauan untuk belajar. Tidak perlu harus berprestasi, seperti punya IPK (indeks prestasi kumulatif, red-) yang tinggi. Yang dibutuhkan hanyalah niat untuk berusaha,” sebutnya.

Dikatakan Prof. Marshella, berkuliah di luar negeri memiliki keuntungan dan kerugian, tapi keuntungan jauh lebih besar didapat daripada kerugian. Karenanya, mahasiswa perlu bermimpi dan berjuang untuk bisa belajar di luar negeri.

“Kuliah di luar negeri sangat menantang tapi menyenangkan. Biasanya di awal itu akan bermasalah dengan bahasa dan budaya, tapi setelah dapat beradaptasi dengan baik, ya akan dapatkan banyak keuntungan, seperti pendanaan, akses pendidikan yang berkualitas tinggi, dapatkan jejaring luas. Jadi, jangan takut bermimpi global untuk kuliah di luar negeri, “ kata dia memotivasi.

Sebagai informasi, kegiatan seminar ini dimoderatori oleh Valentinus S. Taslulu, S.Pd., M.A. TESOL, dan dibagi dalam dua sesi, yakni sesi pertama narasumber Prof. Marshella bersama para mahasiswa FKIP UCB, dan sesi kedua bersama para dosen UCB dan guru-guru dari SD hingga SMA Kristen Citra Mandiri Kupang, serta para kepala sekolah dan guru pamong dari sekolah mitra PPL FKIP UCB.

Percepat Transisi Energi, PLN UIP Nusra Tuntaskan Ganti Kerugian 504 Persil Bidang Tanah Pengembangan Proyek PLTP Ulumbu unit 5-6

Kegiatan ini pun dihadiri oleh Warek II UCB, Dr. Ars. Yoseph Liem, S.T., M.Ars, Dekan FKIP UCB Heryon Bernard Mbuik, S.PAK., M.Pd, Wakil Dekan I FKIP UCB Dr. Maria M.B. Sogen, S.Kom, M.Pd, serta para kaprodi dan sekprodi dari Pendidikan Bahasa Ingris dan PGSD UCB.

(*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement