TEROPONGNTT, KUPANG — Kepala Dinas Pariwisata (Kadis) Kota Kupang, Josefina MD Gheta mengatakan, tema Festival Budaya tingkat kelurahan ditentukan oleh kesepakatan aparat kelurahan bersama masyarakat di masing-masing. Dinas Pariwisata Kota Kupang hanya bertindak sebagai koordinator dalam pelaksanaan festival budaya tingkat kelurahan.
Hal ini dikatakan Kepala Dinas (Kadis) Pariwisata Kota Kupang, Josefina MD Gheta saat ditemui di ruang kerjanya, pada Rabu 22 Juli 2027. Menurut Josefina, tema festival budaya disesuaikan dengan kondisi dan etnis budaya masyarakat kelurahan yang tinggal di dalamnya.
Sejauh ini, kata Josefina, sudah lebih dari 10 kelurahan di Kota Kupang yang menggelar kegiatan festival budaya, dengan tema yang berbeda-beda. Ada yang mengangkat budaya Timor, ada yang mengangkat budaya Sabu Raijua, budaya Rote Ndao dan ada yang mengangkat budaya Flores.
Hal tersebut wajar, kata Josefina, Kota Kupang yang merupakan ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), adalah kota yang majemuk. Warga Kota Kupang berasal dari berbagai etnis dan budaya di Nusa Tenggara Timur bahkan dari luar daerah NTT, sehingga tema festival budayanya disesuaikan dengan etnis dari para warganya.
Dijelaskan Josefina, Kota Kupang memiliki 51 kelurahan yang tersebar di enam kecamatan, dan festival budaya digelar di semua kelurahan. Pelaksanaan festival budaya digelar sesuai jadwal yang disepakati bersama, sehingga tidak ada festival budaya kelurahan yang digelar bersamaan di hari yang sama.
“Tujuan digelarnya festival budaya agar kekayaan budaya yang kita miliki bisa dijaga, dipelihara dan dilestarikan, serta dipromosikan. Selain itu, agar anak-anak kita sebagai generasi muda diperkenalkan dengan kekayaan budaya yang kita miliki dan tidak lupa dengan budaya yang ada,” jelas Josefina.
Selain itu, kata Josefina, dengan digelarnya kegiatan festival budaya, masyarakat Kota Kupang yang hidup berdampingan dalam keberagaman, bisa saling mengenal etnis dan budaya warga di sekitarnya dan bisa terbangun rasa persaudaraan dan keakraban. Tidak memandang perbedaan etnis sebagai jurang pemisah.
“Saat kegiatan festival budaya digelar, juga ada stan UMKM di sekitarnya sehingga bermanfaat pula bagi peningakan pendapatan ekonomi warga atau UMKM. Jadi ada perputaran ekonomi pula pada kegiatan tersebut,” katanya.
Karena itu, Josefina berharap, kegiatan festival budaya yang digelar membawa dampak positif yang makin besar bagi warga Kota Kupang, terutama warga kelurahan. Salah satu manfaatnya, adalah menjadi hiburan ketika masyarakat kelurahan menikmati pentas budaya baik berupa tari-tarian ataupun nyanyian dan fashion show atau atraksi budaya lainnya.
Untuk diketahui, beberapa kelurahan yang telah menggelar kegiatan Festival Budaya, diantaranya; Kelurahan Naimata, Kelurahan TDM, Kelurahan Maulafa, Kelurahan Batuplat, kelurahan Nunleu, Kelurahan Kuanino, Kelurahan Fatukoa, Kelurahan Tode Kisar dan lain-lain.
(*)










Komentar