TEROPONGNTT, KUPANG – Festival Budaya Kelurahan Naikolan digelar selama tiga hari di bilangan Jalan Bougenville Kota Kupang, di wilayah RT 03/RW 01 Kelurahan Naikolan, mulai Senin 28 September 2026. Kemeriahan Festival Budaya Kelurahan Naikolan diwarnai dengan berbagai kegiatan termasuk pentas seni dan budaya, diantaranya Tarian Massal Lego-Lego dan Tarian Dolo Bosan Hala, penampilan paduan suara San Jose Choir, serta Pemetasan Drama Musikal.
Kegiatan Festival Budaya Kelurahan Naikolan dibuka Asisten II Setda Kota Kupang, Ignasius Lega, mewakili Wali Kota Kupang dr. Christian Widodo, dan Wakil Wali Kota Kupang, Serena C Francis. Turut hadir pada acara pembukaan festival budaya ini, Ketua Komisi II DPRD Kota Kupang Roy Riwu Kaho, serta sejumlah pejabat lingkup pemerintah Kota Kupang, Camat Maulafa, serta para lurah sewilayah Kecamatan Maulafa.
Tarian Lego-Lego adalah tarian tradisional khas masyarakat masyarakat Nusa Tenggara Timur dari Kabupaten Alor. Tarian ini melambangkan kebersamaan, persatuan, dan rasa syukur kepada Tuhan dan para leluhur. Sementara Dolo Bosan Hala merupakan tarian dari budaya Lamaholot dari wilayah Flores Timur dan Lembata yang dikemas apik dengan lagu berirama khas berjudul Bosan Hala.
Bosan Hala adalah frasa dalam bahasa daerah Flores Timur dan Lembata (Lamaholot) yang berarti “tidak bosan” atau “tidak jenuh”. Sementara Tarian Dolo Bosan Hala sebelumnya dikenal dengan nama Tarian Teras Sering, yakni tarian yang melambangkan kebersamaan dan kegembiraan.
Selain tarian massal, penampilan paduan suara San Jose Choir dari OMK Gereja Paroki St. Yosep Naikoten, dan pemetasan Drama Musikal dari siswa SMP Negeri 4 Kota Kupang juga membuat pegelaran Festival Budaya Kelurahan Naikolan semakin meriah. Pada kesempatan ini, kelompok Paduan suara San Jose Choir membawakan tiga lagu daerah NTT yang berjudul “Jamila”, “Tabola Bale” dan lagu berjudul “Ikan Nae di Pante”.
Ketiga lagu karya anak-anak NTT ini dibawakan kelompok paduan suara San Jose Choir dengan aransemen yang lebih bersemangat, sehingga terdengar lebih indah dan merdu. Penampilan mereka pun disambut tepuk tangan meriah semua mamsyarakat yang hadir.
Begitu pula dengan pemetasan Drama Musikal dari para siswa SMP Negeri 3 Kota Kupang yang membawakan kisah emosional tentang penanganan bencana gempa bumi Flores. Seni drama musical ini mengangkat budaya kotong royong dan semangat kebersamaan yang selalu dimiliki masyarakat NTT terutama saat sedang menghadapi mencana atau masalah lainnya.
Melalui pementasan drama musical ini, para siswa SMP Negeri 3 Kota Kupang mengingatkan kembali masyarakat Kota Kupang dan masyarakat NTT pada umumnya tentang pentingnya semangat kebersamaan, kepedulian dan semangat gotong royong sebagai budaya bangsa yang juga menjadi budaya masyarakat Nusa Tenggara Timur.
Sementara di awal kegiatan Festival Budaya Kelurahan Naikolan, kehadiran Asisten II Setda Kota Kupang, Ignasius Lega, bersama Ketua Komisi II DPRD Kota Kupang Roy Riwu Kaho, dan rombongan disambut dengan pengalungan selendang dan sapaan adat etnis Alor, yang dilanjutkan dengan tarian kreasi khas budaya Alor.
Wali Kota Kupang dr. Christian Widodo, melalui sambutan tertulisnya yang dibacakan Asisten II Setda Kota Kupang, Ignasius Lega, menyampaikan selamat kepada masyarakat dan pemerintah Kelurahan Naikolan atas terselenggaranya kegiatan Festival Budaya Kelurahan Naikolan tahun 2026. Menurut Wali Kota, pegelaran festival budaya tingkat kelurahan merupakan bagian dari komitmen pemerintah Kota Kupang dalam upaya menjaga dan melestarikan budaya Nusa Tenggara Timur yang ada di masyarakat Kota Kupang, sekaligus mempromosikan.
Wali Kota juga mengingatkan, festival budaya tingkat kelurahan termasuk Festival Budaya Kelurahan Naikolan, bukan hanya bertujuan mengangkat dan mempromosikan kekayaan seni dan budaya semata, tetapi juga menjadi hiburan dan wadah untuk memperkuat persaudaraan sekaligus menggerakkan perekonomian warga.
Dikatakan Wali Kota, seni budaya adalah jati diri kita. Dalam kebudayaan ada nilai-nilai luhur yang diwariskan para orang tua, dan itu harus kita jaga dan kita rawat serta kita wariskan lagi kepada anak cucu. Dalam nilai-nilai budaya tersebut kita diajarkan untuk saling menghormati dan saling menghargai terhadap sesama kita.
Karena itu diharapkan, pegelaran Festival Budaya Kelurahan Naikolan bisa membawa manfaat positif bagi warta kelurahan dan warga Kota Kupang pada umumnya. Bukan cuma dalam hal menjaga dan melestarikan budaya, tetapi juga membangun semangat persaudaraan dalam keberagaman etnis yang ada di Kelurahan Naikolan.
Dalam laporannya, Ketua Panitia Festival Budaya Kelurahan Naikolan, Yeni Missa, mengatakan Festival Budaya Kelurahan Naikolan digelar selama tiga hari hingga Rabu 30 September 2026. Pegelaran festival budaya diisi dengan berbagai kegiatan diantaranya pentas seni dan budaya berupa tarian adat, penampilan paduan suara dan drama musical, serta lomba tarian daerah dan tarian kreasi, lomba fashion show busana daerah untuk anak-anak dan lansia, serta pentas music.
Selain itu, kata Yeni Missa, pegelaran Festival Budaya Kelurahan Naikolan juga melibatkan 200an UMKM yang menjajakan berbagai produm makanan tradisional dan cemilan, serta busana adat dan kain tenun sebagai hasil karya usaha kerajinan.
Yeni Missa juga mengatakan, bilangan Jalan Bougenville di wilayah RT 03/RW 01 Kelurahan Naikolan sejauh ini merupakan ruas jalan yang tidak terlalu ramai kendaraan tetapi dekat dengan jalur jalan raya utama yakni Jalan Soeharto, sehingga masyarakat Kelurahan Naikolan berharap lokasi tersebut dijadikan sebagai kawasan UMKM, dan tidak hanya cuma sebagai tempat pegelaran kegiatan festival budaya.
Ketua Komisi II DPRD Kota Kupang Roy Riwu Kaho, dalam sambutannya juga menanggapi usulan masyarakat kelurahan Naikolan yang disampaikan melalui Ketua Panitia Festival Budaya Kelurahan Naikolan, Yeni Missa sebagai usulan yang positif dan patut dipertimbangkan pemerintah Kota Kupang dan Lembaga DPRD Kota Kupang.
Komisi II DPRD Kota Kupang sebagai mitra Dinas Pariwisata Kota Kupang, kata Roy Riwu Kaho, juga mendukung keberlanjutan kegiatan festival budaya di tingkat kelurahan, dan akan mengusulkan peningkatan dukungan anggaran bagi penyelenggaraan festival budaya di tingkat kelurahan untuk tahun mendatang.
“Di sidang perubahan anggaran kemarin, kita juga minta supaya di anggaran murni APBD tahun depan alogasi anggaran untuk kegiatan festival budaya tingkat kelurahan ditingkatkan dari Rp20 juta per-kelurahan, menjadi Rp40 juga atau Rp50 juta per-kelurahan,” kata Roy Riwu Kaho.
(*)










Komentar