TEROPONGNTT, KUPANG – Pemerintah dan masyarakat Kelurahan Fontein secara khusus memilih Lapangan Cak Malada di wilayah RT 27 RW 09, sebagai lokasi penyelenggaraan Festival Budaya Multi Etnis Kelurahan Fontein, pada Selasa 15 September 2026. Pemilihan lokasi kegiatan ini memiliki kaitan erat dengan nama pahlawan Malada, tokoh pejuang yang diperkenalkan secara luas dan ditonjolkan dalam kegiatan Festival Budaya tersebut.
Selain memperkenalkan Pahlawan Malada, kegiatan Festival Budaya Multi Etnis Kelurahan Fontein juga menonjolkan budaya etnis Helong dan etnis Sabu. Hal tersebut dapat dilihat dari tarian budaya yang ditampilkan dan pakaian adat yang dikenakan panitia penyelenggara beserta seluruh jajaran pemerintah Kelurahan Fontein.
Pada kegiatan festival budaya ini, Kristiana Suparman, selaku cucu buyut keturunan Pahlawan Malada, secara khusus diberi kesempatan untuk memperkenalkan dan membacakan profil Keluarga Malada, serta sejarah perjuangan dan keterlibatannya dalam pembangunan dan kemerdekaan Republik Indonesia.
Kristiana Suparman mengatakan, tokoh Malada bersama keluarga pernah hidup dan tinggal di Kelurahan Fontein, Kota Kupang, tepatnya di wilayah RT 27 RW 09, dekat Kali Dendeng. Sebagai penghargaan atas perjuangannya, saat ini nama jalan di wilayah Kelurahan Fontein diberi nama Jalan Cak Malaka. Selain itu, di Kota Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat, juga ada nama jalan H. Malada, sebagai bentuk penghormatan warga Kabupaten Sumba Barat kepada pahlawan Malada.
Pada kesempatan ini, Kristiana Suparman juga menjelaskan secara detail tentang sejarah perjuangan pahlawan Malada termasuk jabatan dan perjalanan kariernya hingga akhirnya meninggal dunia. Begitu pula dengan peran keluarga dan apa yang telah dilakukan selama hidup di Kota Kupang, terutama di wilayah Kelurahan Fontein dan sekitar.
Kegiatan Festival Budaya Multi Etnis Kelurahan Fontein ini dibuka Kepala Dinas Pariwisata Kota Kupang, Josefina M. D. Gheta, ST., MM, mewakili Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo dan Wakil Wali Kota Kupang, Serena C. Francis. Turut hadir pada kegiatan ini, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kota Kupang, Ariantje M. Baun, SE., M.Si, Camat Kota Radja, para lurah lingkup Kecamatan Kota Lama dan sejumlah pejabat lainnya.
Kehadiran Kepala Dinas Pariwisata Kota Kupang, Josefina M. D. Gheta, ST., MM, bersama Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kota Kupang, Ariantje M. Baun, SE., M.Si, dan rombongan di Festival Budaya Multi Etnis Kelurahan Fontein ini disambut dengan tarian “Oko Mama” dari etnis Helong dan dilanjutkan dengan Tarian “Ledo Hawu” dari etnis Sabu Raijua.
Dalam laporannya, Ketua Panitia Festival Budaya Multi Etnis Kelurahan Fontein, Alosius Koroh mengatakan, kegiatan festival budaya ini akan berlangsung selama tiga hari hingga, Kamis 17 September 2026. Kegiatan festival budaya akan diisi dengan penampilan sejumlah atraksi budaya, lomba tarian daerah, menyanyi lagu daerah dan fashion show busana daerah untuk anak-anak, remaja/dewasa dan para lansia.
Sementara pada malam ketiga sekaligus menjadi malam penutup, akan diisi dengan disi dengan palam hiburan yang juga menampilkan berbagai atraksi budaya serta pengumuman pemenang lomba dan penyerahan hadiah.
“Pegelaran Festival Budaya Kelurahan Fontein bertujuan mempromosikan sekaligus melestarikan budaya Nusa Tenggara Timur yang dimiliki masyarakat Kelurahan Fontein, sekaligus sebagai hiburan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat, karena kegiatan festival melibatkan stan-stan UMKM yang menjajakan berbagai produk makanan dan cemilan untuk memeriahkan kegiatan festival,” kata Alosius Koroh.
Alosius Koroh juga mengatakan, Titik Nol Kota Kupang berada di wilayah Kelurahan Fontein dan itu menjadi bagian utama dari Sejarah berdirinya Kota Kupang. Karena itu, promosi budaya dan Upaya pelestarian budaya tidak boleh melupakan Titik Nol yang ada di wilayah Kelurahan Fontein.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Kupang, Josefina M. D. Gheta, ketika membuka kegiatan Festival Budaya Multi Etnis Kelurahan Fontein ini, mengatakan bahwa budaya bukan sekedar pakaian adat atau tarian dan lagu-lagu daerah. Budaya adalah identitas diri, budaya adalah cara kita mengenal siapa diri kita dan ketika kita tahu siapa diri kita, kita tidak boleh kehilangan arah dalam menjalani kehidupan.
Josefina M. D. Gheta juga mengatakan, masyarakat Kota Kupang adalah masyarakat yang beragam, yang berasal dari berbagai suku dan etnis budaya, bukan cuma dari etnis di wilayah Nusa Tenggara Timur, tetapi juga dari luar Nusa Tengara Timur. Semuanya hidup berdampingan dalam rumah besar Kota Kasih Kupang.
Karena itu, Josefina M. D. Gheta mengingatkan, bahwa keberagaman budaya ini bukanlah sebuah jurang pemisah tetapi merupakan kekuatan untuk saling mengenal dan saling mengisi dalam semangat persaudaraan dan kebersamaan. Kekayaan budaya harus bisa mempersatukan dan menjadi modal untuk dikembangkan sebagai potensi yang berdampak pada kehidupan masyarakat yang lebih baik lagi secara ekonomi.
“Selamat kepada masyarakat Kelurahan Fontein atas terselenggaranya festival budaya ini. Selamat mengikuti lomba-lombanya dan menikmati sebagai hiburan yang memperkenalkan kekayaan budaya terutama bagi generasi muda. Tunjukan bahwa kita adalah masyarakat yang berbudaya,” kata Josefina M. D. Gheta.
Sementara terkait pahlawan Malada yang dipromosikan dalam kegiatan festival budaya ini, Josefina M. D. Gheta menganjurkan agar Kristiana Suparman, selaku cucu buyut keturunan Pahlawan Malada, bersama pemerintah Kelurahan Fontein, bisa berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata Kota Kupang dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, agar kekayaan budaya dan kekayaan Sejarah Pahlawan Malada dapat diperjuangkan dan ditetapkan pemerintah Kota Kupang sebagai tokoh Sejarah dan tokoh budaya masyarakat NTT di Kota Kupang.
(*)










Komentar