Pariwisata
Beranda » Berita » Event Budaya Kelurahan Naikoten II Usung Tema “Lamaholot”, Wali Kota Kupang: Budaya Bukan Hanya Warisan, Tetapi Juga Pinjaman dari Anak Cucu

Event Budaya Kelurahan Naikoten II Usung Tema “Lamaholot”, Wali Kota Kupang: Budaya Bukan Hanya Warisan, Tetapi Juga Pinjaman dari Anak Cucu

Festival Budaya kelurahan Naikoten II

TEROPONGNTT, KUPANG — Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo hadir dan membuka langsung kegiatan Event Budaya Kelurahan Naikoten II yang digelar di halaman Paroki Santo Yoseph Naikoten pada Senin (12/10/2026). Kegiatan Event Budaya yang berlangsung selama tiga hari hingga Rabu 14 Oktober 2026 ini mengangkat tema khusus dengan satu kata, “Lamaholot”.

Lamaholot adalah salah satu etnis di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang meliputi masyarakat di wilayah Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Lembata. Pemilihan tema Lamaholot ini tentu bertujuan mengangkat dan mempromosikan kekayaan budaya Lamaholot secara lebih luas di wilayah Kota Kupang, meskipun tanpa mengecilkan kekayaan budaya dari etnis lain yang juga hidup ada di wilayah Kelurahan Naikoten II.

Kehadiran Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo bersama rombongan, untuk membuka Event Budaya Kelurahan Naikoten II ini, disambut Pastor Paroki Santo Yoseph Naikoten II, Romo Jhon Rusae, di aula paroki tersebut. Selanjutnya, Wali Kota bersama Romo Jhon Rusae dan rombongan pejabat, disambut dengan iringan drum band dari siswa SMA Kristen Mercusuar, menuju lokasi pelaksanaan Evet Budaya di halaman Gereja Paroki tersebut.

Di tempat pelaksanaan Event Budaya Kelurahan Naikoten II ini, kehadiran Wali Kota Kupang dan rombongan kemudian disambut dengan sapaan adat dan pengalungan salendang menuurut budaya etnis Lamaholot. Setelah sapaan adat, dilanjutkan dengan tarian Hedung sebagai tarian penyambutan yang dibawakan para siswa sekolah dasar dari SD Persitim 1 Kota Kupang.

Untuk diketahui, Tarian Hedung merupakan salah satu warisan budaya tradisional masyarakat Lamaholot di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur. Tarian Hedung adalah tarian perang yang tidak hanya menampilkan gerakan yang tegas dan penuh semangat, tetapi juga mengandung nilai sejarah, keberanian, penghormatan kepada leluhur, serta identitas budaya masyarakat Lamaholot.

Festival Budaya Kelurahan Naikoten I, Merawat Budaya, Mempererat Persaudaraan, Menggerakkan Partisipasi Masyarakat

Pada masa lampau, Tarian Hedung dipentaskan sebelum dan sesudah peperangan. Sebelum berperang, tarian ini berfungsi membangkitkan semangat juang para ksatria. Sementara setelah peperangan, Hedung menjadi bagian dari ungkapan kemenangan dan penyambutan para pejuang yang kembali dari medan pertempuran.

Seiring perkembangan zaman, fungsi Tarian Hedung mengalami perubahan. Tarian ini kini juga dipentaskan dalam berbagai kegiatan adat dan kebudayaan, termasuk untuk menyambut tamu penting maupun pejabat yang berkunjung. Meski demikian, nilai-nilai keberanian, persatuan, dan penghormatan terhadap tradisi leluhur tetap melekat dalam setiap pertunjukannya.

Dalam kegiatan penyambutan ini, para penari cilik dari SD Persitim 1 Kota Kupang, baik laki-laki maupun perempuan, mengenakan pakaian adat khas Lamaholot. Mereka membawa perlengkapan tradisional yang menggambarkan suasana peperangan, seperti parang yang disebut kanube, perisai kayu atau dela, serta tombak.

Gerakan tarian yang lincah, tegas, dinamis, dan penuh energi menggambarkan ketangkasan serta keberanian para pejuang. Setiap gerakan menjadi simbol semangat juang dan kesiapan menghadapi tantangan, sekaligus memperlihatkan kekayaan ekspresi seni masyarakat Adonara.

Penampilan Tarian Hedung ini diiringi musik tradisional dan tabuhan gong dengan irama yang menghentak, berpadu dengan gerakan para penari, menciptakan suasana yang menggugah semangat dan memperkuat karakter tarian sebagai representasi tradisi kepahlawanan.

Festival Budaya Kelurahan Oebufu Dimeriahkan Lomba Tarian Tebe, Daud Nafi Ajak Masyarakat Merawat Budaya dan Memperkuat Persatuan

Lebih dari sekadar pertunjukan seni, Tarian Hedung merupakan bagian dari jati diri masyarakat Lamaholot. Tarian ini menjadi sarana untuk mewariskan nilai-nilai budaya kepada generasi muda sekaligus memperkenalkan kekayaan tradisi Adonara kepada masyarakat luas.

Acara pembukaan Event Budaya Kelurahan Naikoten II juga dihadiri Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekda Kota Kupang, Hengky C. Malelak, Sekretaris Dinas Pariwisata Kota Kupang, Margaritha Salean, Camat Kota Raja Victor Reyneer Therik, Lurah Naikoten II, Konstanteni Adam serta para lurah se-wilayah Kecamatan Kota Raja dan sejumlah undangan lainnya.

Dalam sambutannya saat membuka kegiatan Event Budaya Kelurahan Naikoten II ini, Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak hanya menjadi upaya menjaga warisan leluhur, tetapi juga merupakan tanggung jawab untuk mewariskan kekayaan budaya kepada generasi mendatang.

Wali Kota mengatakan, pembangunan sebuah kota tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik dan infrastruktur, tetapi juga harus memperhatikan pembangunan manusia, penguatan karakter, toleransi, serta pelestarian budaya. Kegiatan festival budaya merupakan salah satu bentuk nyata pembangunan manusia karena tidak hanya menjaga keberlangsungan seni dan tradisi, tetapi juga membangun karakter masyarakat sekaligus mendorong pergerakan ekonomi warga.

“Budaya itu bukan hanya warisan dari para leluhur, tetapi juga pinjaman dari anak cucu kita. Karena itu, mari kita jaga bersama dan kita lestarikan,” pesan Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo.

Event Budaya Etnis Timor Kelurahan Alak, Mengikat Persaudaraan dalam Harmoni Kearifan Lokal

Wali Kota menjelaskan, apabila budaya hanya dipandang sebagai warisan leluhur, masyarakat bisa saja merasa bahwa budaya tersebut sepenuhnya menjadi milik mereka. Namun, jika budaya dipandang sebagai sesuatu yang dipinjam dari generasi mendatang, setiap orang akan memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan melestarikannya, agar tetap utuh ketika diwariskan kembali kepada anak cucu.

Karena itu, Wali Kota mengajak seluruh masyarakat Kelurahan Naikoten II, dan masyarakat Kota Kupang pada umumnya, untuk terus menjaga kekayaan seni, tradisi, dan budaya dari berbagai suku dan etnis yang hidup berdampingan di Kota Kupang ini.

Wali Kota juga menyebut bahwa Kelurahan Naikoten II merupakan salah satu gambaran kecil dari keberagaman Kota Kupang. Berbagai suku dan etnis hidup bersama dalam lingkungan masyarakat yang sama. Keberagaman ini tidak boleh dipandang sebagai sesuatu yang memisahkan masyarakat, sebaliknya perbedaan harus menjadi kekuatan yang menyatukan warga dalam kehidupan bermasyarakat.

Ia menegaskan bahwa harmoni tidak berarti semua orang harus memiliki identitas yang sama atau menjadi seragam. Harmoni justru tercipta ketika masyarakat dengan latar belakang yang berbeda mampu berjalan bersama secara seimbang, saling menghormati, dan menjaga persatuan.

“Harmoni itu bukan sama atau seragam, tetapi seimbang. Persatuan tidak mengharuskan masyarakat menghilangkan perbedaan suku, etnis, maupun latar belakang masing-masing. Persatuan berarti kesediaan untuk tetap berjalan bersama, meskipun memiliki identitas dan tradisi yang berbeda,” kata Wali Kota.

Selain melestarikan budaya dan membangun karakter, Wali Kota menilai festival budaya juga memiliki manfaat ekonomi bagi masyarakat. Contohnya, keterlibatan pelaku usaha dan produk lokal dalam kegiatan tersebut sebagai bagian dari pergerakan ekonomi warga. Kehadiran kegiatan budaya dapat membuka ruang bagi masyarakat untuk memperkenalkan dan memasarkan produk mereka kepada pengunjung.

Sementara Rio Ndun, selaku Ketua Panitia Event Budaya Kelurahan Naikoten II, dalam laporannya mengatakan, menyampaikan bahwa kegiatan Event Seni dan Budaya Kelurahan Naikoten II, diselenggarakan sebagai upaya mempererat tali persaudaraan, memperkuat kebersamaan antarwarga, serta melestarikan seni dan budaya daerah yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.

Menurut Rio Ndun, Event Budaya Kelurahan Naikoten II juga memberikan ruang kepada masyarakat, khususnya generasi muda dan anak-anak, untuk mengembangkan bakat, kreativitas, kemampuan, serta kecintaan terhadap kebudayaan daerah. Selain itu, menjadi sarana untuk membangun semangat gotong royong, memperkuat persatuan antar-RT dan RW, serta menumbuhkan rasa bangga terhadap warisan budaya yang dimiliki masyarakat.

Kegiatan Event Budaya Kelurahan Naikoten II, kata Rio Ndun akan diisi dengan sejumlah kegiatan seperti lomba fashion show pakaian daerah Lamaholot untuk anak-anak dan lansia, lomba tarian kreasi daerah, lomba menyanyi lagu daerah serta malam pentas seni dan budaya, Melalui perlombaan ini, masyarakat diharapkan semakin mengenal, mencintai, dan berpartisipasi aktif dalam menjaga kesenian daerah.

Rio Ndun juga mengatakan, penyelenggaraan Event Budaya Kelurahan Naikoten II, terselenggara atas dukungan dana dari pemerintah Kota Kupang, partisipasi masyarakat dan dukungan dari para sponsor. Untuk kemeriahan penyelenggaraan event budaya ini, panitia juga melakukan penjualan kupon sebanyak 1.500 lembar dengan harga Rp10.000 per-lembar.

Penjualan kupon tersebut menjadi bagian dari upaya mendukung kegiatan, termasuk penyediaan hadiah bagi masyarakat, dengan hadiah utama berupa sebuah sepeda motor listrik dan berbagai hadiah hibutran lainnya.

Sebelum meninggalkan tempat kegiatan, Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo juga berkessmpatan meninjau dan berbelanja di sejumlah stan UMKM yang ada untuk memeriahkan penyelenggaraan event budaya tersebut. Masyarakat pun antusias menyambut kehadiran Wali Kota Kupang di kegiatan ini.

(*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement