Pariwisata
Beranda » Berita » Kelurahan Manulai II Gelar Festival Budaya Manunnadj, Tonjolkan Budaya Timor, Juga Diwarnai Lomba Bersiul bagi Mama-Mama

Kelurahan Manulai II Gelar Festival Budaya Manunnadj, Tonjolkan Budaya Timor, Juga Diwarnai Lomba Bersiul bagi Mama-Mama

Festival Budaya Kelurahan Manulai II

TEROPONGNTT, KUPANG – Kelurahan Manulai 2 menjadi kelurahan ke-38 dari jumlah 51 kelurahan di Kota Kupang yang menggelar kegiatan festival budaya di tahun 2026. Kegiatan Festival Budaya Kelurahan Manulai 2 diberi nama “Festival Budaya Manunadj”, sebagai nama lain dari kata Manulai.

Dalam bahasa Dawan Timor, kata “Manu” artinya Ayam, sementara kata “lai” berarti tempat atau lokasi. Jika kedua kata ini digabungkan maka kata “Manulai” dapat dimaknai sebagai “Tempat Ayam” atau “Lokasi Ayam”. Sementara kata “Manunnadj” berasal dari kata “Manu” yang berarti Ayam, dan kata “Nadj” yang berarti Putih. Sehingga jika keduanya digabungkan maka kata “Manunadj” mengandung makna sebagai “Ayam Putih”.

Dalam tradisi masyarakat Timor, ayam dengan warna tertentu sering dipakai dalam ritual adat karena memiliki makna penting. Ayam Putih biasanya dianggap suci sebagai simbol kemurnian, sehingga dipakai dalam persembahan khusus, misalnya untuk doa atau upacara adat tertentu.

Jika demikian, maka pemberian nama “Festival Budaya Manunadj” pada pegelaran Festival Budaya Kelurahan Manulai 2 ini memiliki pesan penting, paling tidak untuk menegaskan bahwa wilayah Kelurahan Manulai 2 bukan cuma memiliki arti sebagai “lokasi atau tempat ayam”, tetapi lebih dari pada itu memiliki makna sebagai “Tempat Ayam Putih” yang menjadi simbol kemurnian.

Festival Budaya Manunnadj Kelurahan Manulai 2 digelar di halaman Kantor Kelurahan Manulai 2 selama tiga hari, mulai Kamis 1 Oktober 2026, dan dibuka Camat Alak, Amramsius Yolah, S.Sos. Pegelaran Festival Budaya ini mengusung tema “Lestarikan Budaya, Tingkatkan Wawasan dan Raih Prestasi”.

Festival Budaya Kelurahan Naikoten I, Merawat Budaya, Mempererat Persaudaraan, Menggerakkan Partisipasi Masyarakat

Nuansa budaya Timor yang ditonjolkan dalam kegiatan festival budaya ini terlihat sejak penyambutan terhadap kehadiran Camat Alak, Amramsius Yolah, S.Sos bersama rombongan pejabat lingkup pemerintah Kota Kupang dan Kecamatan Alak. Kehadiran Camat Alak dan rombongan disambut dengan sapaan adat Natoni, serta tarian Oko Mama.

Pdt. Emr. Hengky Abineno, S.Th selaku Ketua Panitia Festival Budaya Kelurahan Manulai 2, dalam laporannya mengatakan, pegelaran Festival Budaya Manunnadj bertujuan melestarikan kekayaan budaya yang ada di masyarakat Kelurahan Manulai 2, sekaligus mempromosikannya agar lebih dikenal secara luas. Tujuan lainnya adalah, memperkenalkan kekayaan budaya kepada generasi muda agar tidak melupakan budaya sebagai jati diri masyarakat setempat.

Kegiatan Festival Budaya yang digelar selama tiga hari ini juga akan dimeriahkan dengan berbagai ataraksi seni budaya dari berbagai etnis, seperti tarian massal Bonet dan penampilan tarian adat lainnya, juga lomba menyanyi lagu daerah, lomba fashion show baju daerah, lomba busana daur ulang motif daerah, serta lomba bersiul bagi mama-mama, dan lomba ikat selimut untuk bapak-bapak.

Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, melalui sambutan tertulisnya yang dibacakan Camat Alak, Amramsius Yolah, S.Sos, menyampaikan selamat kepada masyarakat Kelurahan Manulai 2 atas terselenggaranya Festival Budaya di kelurahan tersebut. Wali Kota mengingatkan, Festival Budaya bukan sekedar pertujukan seni, tapi di dalamnya ada sejarah, identitas dan jati diri bangsa masyarakat NTT.

Dikatakan Wali Kota, festival budaya tingkat kelurahan merupakan bentuk komitmen pemerintah Kota Kupang dalam menjaga dan melestarikan budaya masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) yang ada di masyarakat Kota Kupang, termasuk di Kelurahan Manulai 2. Selain itu, juga bertujuan membangun semangat saling menghargai dan saling mengenal budaya antar warga yang hidup berdampingan dalam keberagaman.

Event Budaya Kelurahan Naikoten II Usung Tema “Lamaholot”, Wali Kota Kupang: Budaya Bukan Hanya Warisan, Tetapi Juga Pinjaman dari Anak Cucu

“Festival budaya seperti ini bukan sekadar sebuah pertunjukan seni. di dalamnya ada identitas, sejarah, nilai-nilai leluhur dan jati diri masyarakat Nusa Tenggara Timur yang terus kita wariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya,” kata Wali Kota.

Modernisasi boleh berkembang, teknologi boleh semakin maju, tetapi kata Wali Kota, akar budaya jangan sampai kita tinggalkan. sebab masyarakat yang maju bukan masyarakat yang melupakan masa lalunya, melainkan masyarakat yang mampu membawa nilai-nilai baik dari masa lalu untuk menjawab kebutuhan masa kini dan masa depan.

Pada kesempatan ini, melalui sambutan tertulisnya yang dibacakan Camat Alak, Wali Kota Kupang dr. Christian Widodo juga menyebut, bahwa kita patut bersyukur, karena berbagai upaya pembangunan dan pelayanan yang dilakukan bersama mulai mendapatkan pengakuan. Kota Kupang sebelumnya meraih terbaik ketiga kategori akses dan kualitas layanan kesehatan dengan insentif fiskal sebesar Rp1 miliar.

Dan beberapa waktu kemudian, kata Wali Kota, Kota Kupang juga meraih terbaik kedua untuk pelaksanaan Program Tiga Juta Rumah, dengan dukungan 250 unit bantuan stimulan perumahan swadaya (BSPS), serta meraih predikat terbaik pertama TP2DD untuk kawasan Nusa Tenggara, Maluku dan Papua. Penghargaan tersebut tentu bukan tujuan akhir, namun bagi pemerintah, penghargaan adalah bentuk apresiasi sekaligus pengingat bahwa masih banyak pekerjaan yang harus kita selesaikan bersama.

Kegiatan Festival Budaya Kelurahan Manulai 2 kemudian dilanjutkan dengan Pencanangan Penggunaan Metode Biopori dalam Pelaksanaan Program Cerdas Kelola Air dan Lahan Berkelanjutan Tingkat Kecamatan Alak, di Kota Kupang. Pencanangan Penggunaan Metode Biopori ini ditandai dengan penanaman anakan pohon di halaman Kantor Kelurahan Manulai II oleh Camat Alak, Amramsius Yolah, S.Sos bersama Muspicam Alak.

Festival Budaya Kelurahan Oebufu Dimeriahkan Lomba Tarian Tebe, Daud Nafi Ajak Masyarakat Merawat Budaya dan Memperkuat Persatuan

Kegiatan Festival Budaya Kelurahan Manulai 2 hari pertama kemudian ditutup dengan menari Tarian Bonet Bersama. Camat Alak dan sejumlah pejabat yang hadir pun turut berbaur dengan masyarakat saat menari Tarian Bonet Massal ini. Tarian Bonet adalah tarian budaya dari etnis Timor yang melambangkan persaudaraan dan rasa kebersamaan..

(*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement