TEROPONGNTT, KUPANG — Festival Budaya Kelurahan Fatufeto digelar selama tiga hari, mulai Selasa 22 September 2026. Pegelaran Festival Budaya ini mengangkat thema : “Merajut Kebersamaan dalam Keberagaam Etnis Budaya, Ale Rasa Beta Rasa”.
Kegiatan Festival Budaya Kelurahan Fatufeto dipusatkan di Lapangan Pitoby RT 01 RW 01 kelurahan tersebut dan diisi dengan sejumlah kegiatan, berupa lomba tarian kreasi dan fashion show busana daerah, serta pasar murah dan layanan Kesehatan gratis. Kemeriahan pegelaran festival budaya didukung dengan hadirnya sejumlah stan UMKM yang menyiapkan berbagai cemilan dan makanan local khas NTT.
Pegelaran Festival Budaya Kelurahan Fatufeto dibuka Camat Alak Amramsius Yolah, S.Sos, mewakili Wali Kota Kupang, dr. Christisan Widodo dan Wakil Wali Kota Kupang, Serena C Francis. Kehadiran Camat Alak Amramsius Yola dan rombongan pun disambut dengan sapaan adat dan tarian dari etnis Alor.
Hari pertama pegelaran Festival Budaya diisi dengan acara pembukaan dan penampilan sejumlah tarian adat dan tarian kreasi dari berbagai budaya yang dianut masyarakat Kelurahan Fatufeto. Selain tarian penyambutan dari etnis Alor, juga ada tarian sirih pinang dari etnis Timor yang dibawakan para siswa SDN Fatufeto, serta tarian kreasi lainnya.
Pegelaran Festival Budaya Kelurahan Fatufeto hari pertama juga diwarnai dengan tarian massal Bosan Halla dari etnis Flores Timor. Camat Alak Amramsius Yolah, beserta sejumlah pejabat lingkup Pemkot Kupang dan Kecamatan Alak, serta para lurah se-Kecamatan Alak, turut berbaur bersama masyarakat setempat dalam tarian massal tersebut.
Sementara hari kedua pelaksanaan Festival Budaya Kelurahan Fatufeto berlangsung meriah dan diisi dengan berbagai lomba termasuk lomba fashion show anak-anak. Mereka tampin dengan busana adat daerah masing-masing, ada yang dari busana adat Sabu, busana adat Alor, busana adat Rote dan lainnya.
Wali Kota Kupang, dr. Christisan Widodo, melalui sambutannya yang dibacakan Camat Alak Amramsius Yolah, S.Sos, menegaskan festival budaya tingkat kelurahan merupakan bagian dari komitmen pemerintah Kota Kupang dalam merawat dan melestarikan budaya, serta mempromosikannya menjadi potensi wisata budaya.
Karena itu, pegelaran Festival Budaya Kelurahan Fatufeto bukan sekedar ajang hiburan semata, melainkan pertunjukan seni budaya yang sekaligus menjadi ajang pertemuan antar warga. Sehingga terjalin hubungan yang lebih akrab dan harmonis, serta saling mengenal dengan sesame warga yang berasal dari etnis berbeda.
Selain itu, kata Wali Kota, melalui kegiatan festival budaya, potensi budaya yang menjadi warisan para leluhur dapat terus dipromosikan dan diperkenalkan untuk diwariskan kepada anak cucu. Jangan sampai, generasi muda kehilangan jati dirinya sebagai warga yang berbudaya akibat pengaruh globalisasi dan kemajuan jaman.
Sementara itu Camat Alak, Amramsius Yolah menambahkan, Festival Budaya juga menjadi wadah pertumbuhan ekonomi masyarakat, karena juga melibatkan UMKM melalui stan-stan yang ada. Pada kegiatan ini, stan-stan UMKM menghadirkan produk kuliner khas NTT seperti jagung rebus, ubi goreng dan ubi rebus, serta berbagai cemilan dan kue-kue tradisional, serta kain tenun ikat.
Camat Alak berharap, semangat kebersamaan dalam keberagaman di Kelurahan Fatufeto terus terjaga sesuai tema kegiatan Festival Budaya yakni “Merajut Kebersamaan dalam Keberagaam Etnis Budaya, Ale Rasa Beta Rasa”. Bukan Cuma dengan warga dalam wilayah kelurahan tetapi juga dengan warga lainnya di wilayah Kota Kupang.
Sementara Ketua Panitia Festival Budaya Kelurahan Fatufeto, Julianus Manu Hadjoh, mengatakan, pemilihan tema kegiatan festival budaya dengan kalima “Ale Rasa Beta Rasa” dipilih karena mayoritas warga Kelurahan Fatufeto berasal dari Etnis Ambon. Sehingga secara tidak langsung juga memperkenalkan budaya Ambon Maluku sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Kota Kupang saat ini.
“Warga keturunan etnis Ambon sudah hidup lama di Kelurahan Fatufeto dan sudah bercampur-baur melalui perkawinan. Dan sejak dahulu sudah hidup berdampingan dengan rukun dan damai. Itulah sebabnya tema Ale Rasa Beta Rasa kami angkat dalam kegiatan festival Buday aini,” kata Julianus Manu Hadjoh.
Menurut Julianus Manu Hadjoh, di arena Festival Budaya tersebut juga ada 7 stan UMKM yang mewakili 7 RW dalam Kelurahan Fatufeto, selain stan UMKM pribadi atau kelompok lainnya. Umumnya stan-stan UMKM ini menawarkan produk pangan lokal dan tenun ikat khas NTT.
“Ini bukti kalau masyarakat Fatufeto dihup rukun dan Bersatu dalam keberagaman. Melalui kegiatan festival budaya ini kami ingin generasi muda mencintai budaya lokal baik NTT maupun Ambon dan budaya lain yang ada di masyarakat Kelurahan Fatfeto,” kata Julianus Manu Hadjoh.
(*)










Komentar