TEROPONGNTT, KUPANG – Tarian Rebana dan Tarian Sirih Pinang mewarnai kemeriahan Festival Budaya Multi Etnis Kelurahan Bonipoi yang digelar pada Rabu, 9 September 2026. Pada kegiatan festival budaya ini, Tarian Rebana dibawakan oleh para remaja pria, sementara Tarian Sirih Pinang dibawakan para remaja wanita.
Rebana adalah salah satu alat musik tradisional yang dimainkan dengan cara memukul selaput yang terbuat dari kulit binatang atau plastik yang terdapat pada satu sisinya. Sementara Tarian Rebana adalah gerakan menari sambil memukul Rebana yang dilakukan secara apik
Berbeda dengan Tarian Rebana yang telah menjadi budaya nasional, Tarian Sirih Pinang merupakan tarian penerimaan tamu dari tradisi etnis Timor. Penampilan tarian ini memberi arti, menyambut kehadiran tamu terutama para pejabat pemerintahan dan tokoh adat lainnya, sebagai ucapan selamat datang.
Pada kegiatan festival budaya ini, Alat Musik Rebana dimainkan para remaja sambil menari saat menyambut kehadiran Asisten I Setda Kota Kupang, Hengky C Malelak dan rombongan, yang datang mewakili Wali Kota Kupang dr. Christian Widodo dan Wakil Wali Kota Kupang, Serena C Francis. Sementara Tarian Sirih Pinang dipentaskan di atas panggung sebagai bentuk hiburan dan ucapan selamat datang.
Pegelaran Festival Budaya Multi Etnis Kelurahan Bonipoi mengusung tema “Merajut Pelangi dalam Keberagaman Budaya NTT”. Acara pembukaan Festival Budaya Multi Etnis Kelurahan Bonipoi juga dihadiri Kadis Pariwisata Kota Kupang Josefina MD Gheta, Anggota DPRD Kota Kupang Ahmad Thalib, Camat Kota Lama, serta para lurah se-Kecamatan Kota Lama dan para pejabat lainnya lingkup pemerintah Kota Kupang dan Kecamatan Kota Lama.
Dalam laporannya, Ketua Panitia Festival Budaya Multi Etnis Kelurahan Bonipoi, Arisandi Saban, mengatakan, Festival Budaya Multi Etnis Kelurahan Bonipoi yang akan digelar selama 3 hari hingga Jumat 11 September 2026, menjadi wadah kebersamaan lintas etnis dan budaya, yang memperkuat identitas Kota Kupang sebagai ruang hidup yang harmonis, terutama bagi masyarakat Kelurahan Bonipoi
Kegiatan Festival Budaya Multi Etnis Kelurahan Bonipoi, kata Arisandi Saban, akan diisi dengan lomba tarian daerah, lomba menyanyi lagu daerah dan lomba fashion show busana daerah bagi anak-anak. Sementara di hari terakhir, akan digelar malam hiburan sekaligus sebagai penutupan kegiatan festival budaya.
Tujuan digelarnya Festival Budaya Multi Etnis Kelurahan Bonipoi, kata Arisandi Saban, sebagai ajang promosi dan upaya pelestarian budaya sehingga masyarakat Kota Kupang khususnya masyarakat kelurahan Bonipoi tetap mengingat asal-usulnya dan budaya yang diwariskan dari jaman nenek moyang.
Sementara dalam sambutannya saat membuka kegiatan festival budaya ini, Asisten I Setda Kota Kupang, Hengky C Malelak menegaskan pentingnya generasi bangsa untuk mengenal jati diri dan adat budayanya. Jangan sampai generasi bangsa lupa akan adat dan budaya karena pengaruh perkembangan jaman.
Menurut Hengky C Malelak, pegelaran festival budaya tingkat kelurahan merupakan bagian dari komitmen Pemerintah Kota Kupang dalam menjaga dan mempromosikan keragaman budaya yang dimiliki. Keragaman budaya tidak boleh menjadi jurang pemisah tetapi harus menjadi kekayaan yang mempersatukan dan membangkitkan semangat untuk menjadi lebih baik dalam hidup.
Melalui kegiatan festival budaya, kata Hengky C Malelak, masyarakat Kelurahan Bonipoi dan masyarakat Kota Kupang pada umumnya yang berasal dari berbagai etnis, bisa saling mengenal dan menjadi lebih akrab, terus membangun semangat persaudaraan. Karena perbedaan bukan karena keinginan manusia tetapi karena Tuhan telah menciptakan kita berbeda satu dengan yang lain.
“Namun perbedaan itu, tidak boleh dipandang sebagai kelemahan yang memisahkan tetapi merupakan kekuaran yang mempersatukan kita dalam rumah Kota KASIH Kupang. Kita hidup berdampingan dalam damai demi kehidupan yang lebih baik. Jangan lupakan budaya sendiri,” kata Hengky C Malelak.
Setelah dibuka oleh Asisten I Setda Kota Kupang, Hengky C Malelak, pegelaran Festival Budaya Multi Etnis Kelurahan Bonipoi kemudian dilanjutkan dengan lomba fashion shou pakaian adat NTT yang diikuti anak-anak mulai dari taman kanak-kanak sampai dengan remaja.
(*)










Komentar