TEROPONGNTT, KUPANG — Festival Budaya Kelurahan Bakunase II digelar secara meriah di Lapangan SDN Oetona Kota Kupang pada Rabu, 2 September 2026. Pegelaran Festival Budaya ini dibuka Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Kota Kupang, Daud Naffi, mewakili Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo dan Wakil Wali Kota Kupang. Serena C Francis.
Festival Budaya Kelurahan Bakunase II ini ini mengusung tema “Seni dan Budaya Menjadi Perekat Kehidupan Berkeluarga, Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara”, dengan subtema “Berbeda dalam Seni dan Budaya, Bersatu Membina Kerukunan Hidup Bersaudara di Kelurahan Bakunase II”.
Yang juga menarik, saat membuka kegiatan Festival Budaya Kelurahan Bakunase II ini, Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Kota Kupang, Daud Naffi, juga didaulat menyanyikan sebuah lagu untuk menghibur warga Kelurahan Bakunase II sekaligus menyemarakan pegelaran festival budaya tersebut.
Lagu yang dipilih dan dinyanyikan berjudul “Kemesraan” dari Iwan Fals. Lagu ini membawa pesan, agar kemesraan dan semangat persaudaraan yang dibangun melalui pegelaran Festival Budaya tidak cepat berlalu, tetapi terus hadir dan bertumbuh dalam kehidupan masyarakat Kelurahan Bakunase II dan masyarakat Kota Kupang pada umumnya.
Acara pembukaan Festival Budaya Kelurahan Bakunase II yang akan digelar selama tiga hari hingga Jumat 4 September 2026 ini, juga dihadiri Kepala Dinas Pariwisata Kota Kupang, Josefina M. D. Gheta, sejumlah pejabat lingkup Pemerintah Kota Kupang, Camat Kota Raja dan para lurah sekecamatan Kota Raja serta undangan lainnya.
Dalam sambutannya yang dibacakan Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Kota Kupang, Daud Naffi, Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo mengatakan, pegelaran festival budaya tingkat kelurahan termasuk Festival Budaya Kelurahan Bakunase II di wilayah kecamatan Kota Raja, merupakan bagian dari komitmen pemerintah Kota Kupang untuk terus melestarikan dan mempromosikan budaya Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terus hadir di tengah keberagaman masyarakat Kota Kupang.
Selain itu, menurut Wali Kota Kupang, pegelaran Festival Budaya juga menjadi momentum bagi masyarakat di setiap kelurahan dan masyarakat Kota Kupang pada umumnya, untuk lebih dekat dan saling mengenal budaya masing-masing. Sehingga diharapkan, bisa saling memahami dan menjadi lehih akrab dalam kehidupan bertetangga dan bermasyarakat.
“Keberagaman adalah kekuatan yang mempersatuhan kita, bukan menjadi jurang pemisah. Kota Kupang Adalah rumah kita bersama, dan kebudayaan yang kita miliki harus terus kita jaga dan kita peliha untuk diwariskan kepada anak cucu. Kebudayaan juga harus menjadikan kita hidup lebih baik,” kata Wali Kota Kupang.
Sementara dalam laporannya, Ketua Panitia Festival Budaya Kelurahan Bakunase II, Oktoy HS Tabelak mengatakan, keberagaman etnis dan budaya menjadi konsep utama dalam pegelaran Festival Budaya Kelurahan Bakunase II tahun ini. Karena itu, kegiatan festival budaya ini akan diisi dengan penampilan atraksi seni dan budaya dari berbagai etnis masyarakat yang hidup berdampingan di wilayah kelurahan.
Selain itu juga akan digelar lomba-lomba seperti lomba tarian daerah, lomba menyanyi lagu daerah, lomba fashion show anak-anak dan lansia dengan mengenakan budaya daerah, serta lomba standup komedi dan pentas seni lainnya.
“Tujuan digelarnya Festival Budaya Kelurahan Bakunase II ini adalah mempromosikan dan melestarikan kekayaan budaya yang dimiliki, serta membangun rasa kebersamaan sebagai warga kelurahan yang hdup berdampingan dalam keberagaman. Karena itu, pegelaran festival budaya ini bukan sekedar hiduran semata bagi masyarakat,: kata Oktoy HS Tabelak.
Karena mengutamakan konsep keberagaam ini, tambah Oktoy HS Tabelak, maka panitia juga membuka stan sebagai pameran busana daerah bagi UMKM, untuk menyemarakan pegemaran Festival Budaya Kelurahan Bakunase II. Tiap stan UMKM menampilkan pakaian daerah, ada yang dari etnis Flore, etnis Timor, etnis Rote dan Sabu, serta etnis Sumba.
Pada kesempatan ini, Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Kota Kupang, Daud Naffi, bersama sejumlah pejabat dan undangan lainnya, juga didaulat meninjau langsung stan-stan UMKM yang ada, sehingga bisa melihat langsung berbagai jenis pakaian daerah terutama kain tennun yang ditampilkan dan dipromosikan sebagai kekayaan budaya masyarakat NTT.
(*)










Komentar