TEROPONGNTT, KUPANG – Sekolah Dasar (SD) Inpres Naimata terus memperkenalkan permainan tradisional masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) kepada para siswanya melalui kegiatan ekstrakurikuler sekolah. Selain permainan tradisional, pihak sekolah juga memperkenalkan berbagai tarian daerah serta lagu-lagu daerah kepada para siswa.
Permainan tradisional yang diperkenalkan kepada para siswa seperti permainan cakadoka, permainan gasing, permainan sembunyi dan lompat tali, juga permainan tradisional lainnya. Kegiatan ekstrakurikuler tersebut biasa dimainkan para siswa saat jam istirahat sekolah atau saat kegiatan ekstrakurikuler yang dijadwalkan oleh guru.
“Permainan tradisional itu adalah warisan budaya masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) termasuk di wilayah Pulau Timor. Meski tidak ada pelajaran khusus mengenai budaya atau olahraga tradisional tetapi bisa kami perkenalkan kepada para siswa sebagai generasi muda melalui kegiatan ekstrakurikuler,” kata Kepala SD Inpres Naimata, Martinus Klau, saat ditemui di kantornya pada Jumat, 3 Juli 2026.
Menurut Martinus Klau, warisan budaya bukan cuma berupa tarian dan lagu daerah, makanan lokal atau upacara adat saja. Permainan tradisional dan makanan lokal seperti permaianan sikidoka, lompat tali, lempar gasing dan lainnya juga merupakan permainan tradisional yang mestinya terus diperkenalkan sebagai warisan budaya.
Karena itu, kata Martinus Klau, SD Inpres Naimata memberi kesepatan kepada anak-anak di sekolahnya untuk memainkan permainan tradisional saat kegiatan ekstrakurikuler atau saat sedang jam istirahat. Yang penting, saat jam Pelajaran berlangsung, para siswa sudah kembali ke kelas dan mengikuti pelajaran dari guru.
Selain itu, kata Martinus Klau, SD Inpres Naimata berencana membentuk sanggar seni atau sanggar tari di sekolah, sehingga para siswa juga bisa belajar berbagai macam tarian daerah. Selain itu, para penari Sanggar Tari Sekolah juga bisa disewakan sehingga mendatangkan pendapatan bagi sanggar dan sekolah.
Menyinggung soal Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Kupang yang akan memberi perhatian terhadap pelestarian permainan tradisional sebagai salah satu bentuk olahraga, Martinus Klau mengatakan, pihak sekolah tentu sangat menyambut baik hal tersebut. Baik melalui Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) Kota Kupang maupun melalui Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Kupang.
(*)
“Kami juga menyambut baik kehadiran Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Indonesia yang mengharapkan sekolah menjadi pusat pelestarian permainan rakyat dan olahraga tradisional sebagai warisan budaya, karena juga memberi manfaat bagi perkembangan karakter, kesehatan dan kemampuan sosial para siswa sebagai generasi bangsa,” kata Martinus Klau.
Sebelumnya Ketua Umum Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI) periode 2025–2030, Arsjad Rasjid, meminta seluruh pengurus KPOTI di daerah memperkuat konsolidasi organisasi dan membangun jejaring kemitraan dengan berbagai pihak untuk menghidupkan kembali permainan rakyat dan olahraga tradisional sebagai bagian dari pelestarian budaya bangsa.
Arahan tersebut disampaikan Arsjad Rasjid, dalam rangka penguatan organisasi pasca-Musyawarah Nasional (Munas) II KPOTI yang berlangsung di Jakarta pada belum lama ini. Menurut Arsjad, permainan rakyat dan olahraga tradisional tidak sekadar menjadi warisan budaya, tetapi juga sarana efektif untuk membentuk karakter generasi muda Indonesia.
(*)









Komentar