TEROPONGNTT, DENPASAR — Kegiatan hari pertama Media Gathering Semester I Tahun 2026 Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) di Pulau Bali pada Senin 27 April 2026 dilanjutkan ke Subak Bengkel di Kecamatan Kediri, setelah selesai dari kunjungan ke Pabrik Cau Chocolate di Kecamatan Margo, wilayah Kabupaten Tabanan.
Jika di Pabrik Cau Chocolate, peserta media gathering belajar tentang pabrik pengolahan hasil perkebunan, khususnya tanaman Kakao yang diolah menjadi cemilan dan minuman coklat, maka di Subak Bengkel, para wartawan dan Tim OJK NTT diperkenalkan tentang manajemen dan sistem pengairan/irigasi sawah secara tradisional yang masih ditekuni masyarakat Bali.
Perjalanan dari Pabrik Cau Chocolate di Jalan Marga Apuan Dusun Cau di Desa Tua Petiga Br Sumingan, Kecamatan Margo, ke Subak Bengkel, memakan waktu 1 jam lebih menggunakan bus. Kegiatan media gathering yang diikuti 20 wartawan dari berbagai media ini, dipimpin langsung oleh Kepala OJK Provinsi NTT, Jimmy Simarmata.
Kehadiran para peserta Media Gathering Semester I Tahun 2026 Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ini diterima langsung oleh Pengelola Gapoktan Subak Bengkel, Pande Putu Widia Paramata bersama beberapa rekannya. Peserta Media Gathering pun langsung diarahkan ke gudang penggilingan padi milik Gapoktan Subak Bengkel.
Kepada para wartawan peserta media gathering dan tim OJK Provinsi NTT, Pengelola Gapoktan Subak Bengkel, Pande Putu Widia Paramata, menjelaskan bahwa Subak Bengkel adalah sebuah organisasi yang dimiliki oleh masyarakat petani, yang khusus mengatur tentang manajemen sistem pengairan/irigasi sawah secara tradisional serta pengolahan pascaproduksi hasil pertanian terutama beras dan jagung.
Yang menarik, keberadaan Subak di masyarakat petani Bali, termasuk Subak Bengkel, merupakan manifestasi dari filosofi/konsep Tri Hita Karana. Disebut Subak Bengkel karena sistem pengairan/irigasi sawah ini berada di Desa Bengkel, wilayah Kecamatan Kediri.
Dalam perspektif ajaran agama Hindu, Tri Hita Karana merupakan ajaran yang mengutamakan kesimbangan sehingga terciptanya sebuah hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan lingkungan/alam (Adhiputra, 2014).
Dalam kegiatan usaha seperti yang dilakukan Subak Bengkel, kata Pande Putu Widia Paramata, filosofi atau konsep Tri Hita Karana dapat diwujudkan dengan menjaga hubungan baik dengan sesama pelaku usaha, seiring dengan persaingan yang muncul antar pelaku usaha, dimana tidak tertutup kemungkinan bahwa persaingan tersebut dilakukan tidak sesuai dengan dharma atau perbuatan baik. Sementara Tri Hita Karana mengajarkan seseorang agar selaras menjaga hubungan yang baik.
Yang juga menarik dari kunjungan ke Subak Bengkel ini adalah, bahwa Subak Bengkel merupakan Gapoktan atau gabungan kelompok tani yang beranggotakan para petani di wilayah Desa Bengkel. Kegiatan usaha Gapoktan Subak Bengkel juga berjalan bagus dan maju. Hal itu bisa dibuktikan dengan adanya gudang penggilingan padi dan jagung yang luas dengan dilengkapi beberapa peralatan penggilingan yang bagus pula.
Di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), biasanya petani yang tergabung dalam gapoktan cenderung kurang kompak, karena yang lebih diuntungkan adalah ketua kelompok tani atau ketua gabungan kelompok tani (gapoktan), sementara para anggota kadang kurang merasakan manfaat yang semestinya. Akibatnya, banyak gapoktan atau kelompok tani yang cuma seumur jagung atau bertahan hanya dengan jumlah anggota yang sedikit, dan kemudian bubar akibat masalah kekompakan.
Tapi berbeda dengan Gapoktan Subak Bengkel di Kabupaten Tabanan Bali ini. Menurut Pande Putu Widia Paramata , kekompakan seluruh anggota gapoktan selalu dijaga dan dipelihara, dan dalam pengelolaan organisasinya, kepentingan seluruh anggota gapoktan menjadi prioritas, tidak ada yang lebih diuntungkan atau disepelekan.
Dengan semangat kekompakan, kata Pande Putu Widia Paramata, seluruh anggota Gapoktan Subak Bengkel menjadi lebih bersemangat dalam bekerja, dan melahirkan pemikiran atau ide-ide yang kreatif untuk berkembang bersama. Dampaknya, hubungan kerjasama atau hubungan bisnis dengan mitra usaha dan pasar menjadi lebih baik dan luwes.
Pemerintah, baik pemerintah daerah maupun pemerintah pusat, termasuk melalui lembaga-lembaga vertikal di tingkat daerah seperti kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan lainnya, jelas Pande Putu Widia Paramata, kemudian ikut memberi support, sehingga Gapoktan Subak Bengkel menjadi terus maju dan berkambang. Contohnya melalui bantuan peralatan mesin giling padi dan giling jagung dari Kementerian Pertanian serta Dinas Pertanian Provinsi dan Dinas Pertanian Kabupaten, serta batuan berupa kelonggaran dalam sistem kredit pembelian mesin penggilingan padi dengan support dari OJK.
Semua hasil panen padi dan jagung milik petani diserap melalui Gapoktan Subak Bengkel untuk diproses di mesin penggilingan sehingga hasil produksi padi maupun jagung dapat dijual ke pasar dengan harga yang lebih pantas. Selain itu, petani tidak pelu kuatir karena beras dan jagung yang diproduksi petani yang telah melalui proses penggilingan juga bisa dijual ke Perum Bulog dengan harga sesuai standar yang telah ditetapkan pemerintah.
Selain itu, kata Pande Putu Widia Paramata, Gapoktan Subak Bengkel juga membangun hubungan yang positif dengan Dinas Pertanian dan tenaga penyuluh pertanian lapangan (PPL) sehingga petani selalu mendapat edukasi tentang tatacara mengelola lahan pertanian yang benar, supaya hasil pertanian bisa lebih meningkat.
Pada kesempatan ini, Kepala OJK Provinsi NTT, Jimmy Simarmata mengatakan, OJK NTT berharap, media juga bisa memberitakan informasi terkait Gapoktan Subak Bengkel, sehingga memberi contoh dan inspirasi bagi masyarakat petani di NTT dalam pengelolaan usaha pertaniannya. Begitu pula dengan usaha perkebunan Kakao yang dikelola PT Cau Coklat Internasional Tabanan yang menjadi agenda pertama kunjungan dalam kegiatan Kegiatan Media Gathering Semester I Tahun 2026 Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) di Pulau Bali ini.
(*/bersambung..)









Komentar