TEROPONGNTT, BA’A – Jika di banyak tempat di negeri ini, siswa harus menyebrang sungai untuk bisa pergi ke sekolah, lain lagi dengan fakta unik dan mencekam, yang ada di Kabupten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Di kabupaten terselatan NKRI ini, anak-anak dari Desa Tenalain yang menghuni Pulau Usu, harus menggunakan perahu sederhana dan mendayung melawan derasnya arus laut, untuk bisa menyebrang menuju sekolah.
Pulau Usu merupakan bagian dari Desa Tenalain, wilayah Kecamatan Landu Leko, Kabupaten Rote Ndao. Di pulau ini tidak ada sekolah dasar (SD), sehingga anak-anak dari Pulau Usu harus menyebrang laut Selat Mulut Seribu, untuk bisa pergi ke sekolah yang ada di wilayah daratan Pulau Rote, desa mereka.
Mendayung perahu sederhana bersama rekan-rekan sesama siswa sekolah, menjadi pemandangan sehari-hari yang dilakoni anak-anak dari Pulau Usu. Kadang-kadang diantar orang tua, tetapi umumnya mereka mendayung sendiri perahu sederhana untuk pergi ke sekolah, begitupun saat kembali dari sekolah.
Seolah-olah mereka tidak takut dengan derasnya arus laut di Selat Mulut Seribu itu. Padahal, meskipun jaraknya cuma lebih dari 40 meter, tapi derasnya arus laut di selat tersebut bisa saja membawa bahaya. Tapi demi pentingnya pendidikan, mereka tetap lakoni tantangan tersebut.
Perihal fakta unik dan mencekam, ketika anak-anak sekolah dari Pulau Usu mendayung perahu bersama-sama rekan-rekan mereka menuju sekolah lengkap dengan mengenakan pakaian seragam sekolah, juga viral di media sosial dan dibagikan melalui pesan whatsapp (WA). Seperti dapat disaksikan pula melalui akun facebook milik Delfy Manafe, pada link ini : https://www.facebook.com/reel/713171778419103/?sfnsn=wiwspmo&mibextid=6AJuK9.
Tampak pada video di akun facebook milik Delfy Manafe tersebut, para siswa dari Pulau Usu menggunakan dua perahu sederhana, mendayung bersama melawan derasnya arus laut di Selat Mulut Seribu, berangkat menuju sekolah. Jumlah mereka cukup banyak, satu perahu ditumpangi hampir 10 anak.
Pada video Reels Facebook ini, juga ada tulisan “Setiap hari, anak-anak ini harus menyeberangi laut dengan sampan sederhana hanya untuk bisa sampai ke sekolah. Sekolah mereka berada di pulau seberang, tanpa ada jalan darat yang menghubungkan. Satu-satunya cara yang mereka miliki hanyalah berlayar dengan sampan kecil yang rapuh diterpa ombak”.
Melalui tulisan ini, pemilik akun facebook bernama Delfy Manafe, sepertinya ingin mengungkapkan, betapa sulitnya anak-anak dari Pulau Usu untuk bisa mengenyam pendidikan. Mahal benar Pendidikan bagi anak-anak di Pulau Usu, karena harus bertaruh nyawa melintasi arus laut.
Kondisi akses transportasi bagi warga Pulau Usu Desa Tenalain, dan sulitnya anak-anak mengarungi laut menggunakan sampan sederhana menuju sekolah untuk mendapat Pendidikan, menjadi perhatian serius bagi Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Usman Husin. Menurut Usman Husin, fakta ini harus menjadi perhatian pemerintah agar kesulitan yang dihadapi bisa dicarikan jalan keluar dan diatasi.
Saat dihubungi melalui pesan whatsapp (WA)-nya pada Minggu 30 November 2025, Usman Husin mengatakan, dirinya sebagai wakil rakyat dari Daerah Pemilihan (Dapil) NTT 2, meminta Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Kepala Balai Jalan dan Jembatan Wilayah NTT, agar segera membangun jembatan penghubung sepanjang kurang lebih 40 meter ke Pulau Usu.
Menurutnya, keberadaan jembatan akan memberikan dampak besar bagi peningkatan ekonomi warga serta mempermudah akses pelayanan Kesehatan dan Pendidikan bagi anak–anak. Karena yang mengalami kesulitan dan terpaksa harus menggunakan sampan sederhana sebagai alat transportasi, tentu bukan Cuma anak-anak sekolah, tetapi juga ibu-ibu hamil dan orang sakit yang ingin ke fasilitas Kesehatan.
“Saya memohon agar Menteri PU bersama Kepala Balai Jalan Jembatan Wilayah NTT turun langsung meninjau lokasi dan segera merealisasikan pembangunan jembatan ke Pulau Usu. Sehingga anak-anak bisa lebih nyaman ke sekolah dan juga para ibu hamil dan lansia serta orang sakit,” kata Usman Husin.
Dikatakan Usman Husin, warga Pulau usu juga sama seperti warga lainnya. Perlu mendapat perhatian pemerintah agar bisa berusaha demi meningkatkan ekonomi maupun mendapat pelayanan kesehatan dan pendidikan yang baik. Apalagi jarak atau lebar selatnya tidak sampai 40 meter, sangat mungkin untuk dibangun jembatan penghubung.
“Warga Pulau Usu kalau ada yang sakit atau ada ibu hamil yang akan melahirkan, harus naik perahu sederhana untuk menyeberang, lalu naik kendaraan darat lagi untuk bisa sampai di Rumah Sakit Umum (RSU) Ba’a di ibu kota Kabupaten Rote Ndao. Memprihatinkan juga,” kata Usman Husin.
Karena itulah, Usman Husin mengatakan, dirinya memohon kepada Menteri PU RI melalui Kepala Balai Jalan Jembatan Wilayah NTT agar bisa turun mencek melihat langsung ke lokasi dan segera dibungun jembatan penghubung. Karna sudah sekian puluhan tahun, warga Pulau Usu, terutama anak-anak yang ke sekolah serta orang sakit dan ibu hamil harus berjuang naik sampan/kecil untuk menyeberang,” kata Usman Husin.
(*)






Komentar